Jumat, 10 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Unik, Pak Guru di Demak Ini Mengajar Menggunakan Media Wayang Kulit

Unik, Pak Guru di Demak Ini Mengajar Menggunakan Media Wayang Kulit

Penulis: puthut dwi putranto | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG/PUTUT DWI PUTRANTO
Unik, Pak Guru di Demak Ini Mengajar Menggunakan Media Wayang Kulit 

Laporan Tribun Jateng, Puthut Dwi Putranto

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Mengikuti laju perkembangan zaman boleh-boleh saja. Asalkan tidak mengabaikan kebudayaan asli daerah masing-masing terutama bahasa pribumi.
Pesan moral seperti itulah yang disampaikan oleh Iswara Wisesa, Guru Bahasa Jawa SMK Negeri 1 Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah kepada para muridnya.

Ya... Kamis (25/02/2016) siang, Pak Is begitu dia akrab disapa tengah sibuk mengajar di kelas X Rekayasa Perangkat Lunak (RPL). Di era globalisasi ini, Pak Is mengajak para murid agar tidak keblinger akan westernisasi atau budaya ala kebarat-baratan. Paling tidak, sebagai insan yang berbudi luhur, para pelajar dituntut selektif dalam menerima masuknya pengaruh asing.

Ada cara menarik strategi Pak Is dalam sampaikan pelajaran Bahasa Jawa ini. Ia menggunakan media wayang sebagai perantara untuk mentransfer ilmu pengetahuan yang dia ampu. Pada kesempatan mengajar kali ini, Pak Is memilih memakai wayang dari tokoh Punokawan. Sebut saja Semar, Gareng, Petruk, Bagong.

Meski para murid ini terlihat seksama menyimak apa yang Pak Is ajarkan. Namun, tak luput berulang kali para siswa-siswi dibuat tertawa terbahak-bahak oleh ulah tokoh Punokawan yang didalangi oleh sang Guru berpostur tinggi tersebut.

Dalam materi pelajaran ini, Pak Is menyuguhkan tema 'Unggah-ungguh Bahasa Jawa'. Saat itu tokoh Gareng diibaratkan telah selesai menempuh studi di luar negeri. Sepulangnya ke negeri asal, Gareng telah berubah drastis. Gareng menjadi korban modernisasi. Cara bertutur dan perilaku Gareng sudah jauh dari peradaban Jawa. Gareng mendadak arogan dengan mulai merendahkan 'Wong Jowo'. Siapapun itu dianggapnya Ndeso jika tak mengikuti gaya hidup Gareng.

Hal ini tentunya membuat para Punokawan menjadi miris akan sifat Gareng tersebut. Mereka pun mencoba meluruskan Gareng agar tak sembrono berani melecehkan kebudayaan Jawa yang telah mengakar kuat di lingkungannya. Singkat kata, Gareng mulai menyadari akan kesalahannya. Gareng menangis dan meminta maaf kepada semuanya. (Lanjutkan Baca di Koran Tribun Jateng edisi 26 Februari 2016).

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved