Breaking News:

Opini

Asa Generasi Muda Cinta Wayang

Penghargaan ini membuktikan seni wayang memiliki nilai seni dan budaya yang tinggi sehingga layak menjadi budaya international, sekaligus menutup kemu

TRIBUNJATENG.COM -- Akhir-akhir ini kita dibuat gerah mendengar beberapa seni budaya Indonesia diklaim sebagai seni budaya negara tetangga. Seni budaya yang diakui Malaysia berupa tarian dan lagu-lagu daerah. Sebenarnya di balik klaim ini masih banyak yang membanggakan, salah satunya adalah kesenian wayang yang telah mendapatkan penghargaan dari UNESCO, yaitu sebagai masterpiece of the oral and intangible heritage of humanity.

Penghargaan ini membuktikan seni wayang memiliki nilai seni dan budaya yang tinggi sehingga layak menjadi budaya international, sekaligus menutup kemungkinan Malaysia mengklaim sebagai budaya negara itu. Sangat disayangkan, seni wayang warisan generasi terdahulu kepada generasi sekarang, animo penggemarnya belum menggembirakan.

Harus diakui, pertunjukan wayang telah “terdesak” oleh seperti sinetron, film, talk show, reality show, komedi, musik dangdut, pop, rock dan lain-lain. Di sisi lain sebagian generasi muda dan anak-anak kurang mengenal tokoh-tokoh dalam wayang, misalnya Gatotkaca, Bima, Arjuna, Semar, dan lainnya. Mereka lebih mengenal tokoh-tokoh dalam film dan sinetron, semisal Baja Hitam, Power Rangers, Doraemon, Kura-kura Ninja, Shincan, Upin & Ipin, Superman, Harry potter, dan lain-lain.

Banyak ahli di berbagai bidang mengungkap masalah seni wayang ditinjau dari aspek filsafat, seni rupa, genetik, teknologi pembuatan wayang, kebahasaan, dan aspek-aspek lainnya. Hal ini menunjukkan perhatian besar terhadap seni wayang yang luwes ditinjau dari sisi manapun. Namun kita prihatin, mengapa seni wayang belum mendapat tempat di hati generasi muda?

Ada banyak jenis wayang, yaitu wayang Sunda, wayang kulit, wayang Betawi, wayang Sasak, wayang Timplong, wayang Tengul, wayang Jemblung, wayang Cepak, wayang Beber, wayang Topeng, wayang orang, wayang Kancil, wayang Wahyu, wayang Suket dan wayang inovasi lainnya.

Salah satu yang populer adalah wayang kulit, yang biasanya mengambil cerita dari Mahabarata dan Ramayana di India. Sesuai dengan namanya, wayang ini dibuat dari kulit lembu yang diproses sedemikian rupa (dikeringkan, ditatah, dicat dan sebagainya) hingga berbentuk sesuai tokoh wayang yang diinginkan.

Filosofi Wayang

Kita patut gembira sebagian masyarakat terutama orang tua masih menyukai dan menikmati wayang. Mereka menilai wayang bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarat kandungan nilai-nilai luhur dan sakral. Ada lakon khusus yang tidak sembarangan dipertunjukkan, biasanya untuk acara ruwatan, misalnya meruwat orang yang kena sukerta/sial dan meruwat desa dengan maksud untuk memohon diberi keselamatan hidup dan terhindar dari gangguan.

Orang yang dianggap sukerto adalah anak tunggal (ontang-anting), anak kembar perempuan (kembang sepasang), anak dua laki-laki (uger-uger lawang), anak lima laki-laki (pendawa lima), anak tiga yang di tengah perempuan (sendang kapit pancuran), anak tiga yang ditengah laki-laki (pancuran kapit sendang). Sedangkan pada acara pertunjukkan wayang untuk meruwat desa/dukuh biasanya dilakukan setahun sekali agar desa tersebut terhindar dari bencana dan wabah penyakit (Jawa: Pageblug).

Kanti Waluyo (2000), menjelaskan wayang adalah refleksi dari budaya Jawa dalam arti pencerminan kenyataan kehidupan, nilai dan tujuan kehidupan, moralitas, harapan dan cita-cita kehidupan orang Jawa. Wayang memberi gambaran kehidupan masyarakat Jawa, mengenai bagaimana hidup yang sesungguhnya (das sein) dan bagaimana hidup seharusnya (das sollen). Sedangkan Sunarto (1989) wayang merupakan karya seni rupa yang mempunyai makna dan sebagai lambang, simbol, falsafah hidup bagi anggota masyarakat pendukungnya.

Halaman
123
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved