Tribun Corner
Filosofi Diam
Setiap orang merasa memiliki ruang untuk mengeluarkan segala ekspresi serta keluh kesah. Kicauan dan deretan kata bertebaran di mana-mana.
APAKAH kita sadar terkadang sudah terlalu banyak bicara? Di televisi, kita melihat para politikus, pejabat negara, maupun pengacara banyak bicara tentang ini dan itu.
Sementara di media sosial, setiap detik, ribuan status muncul. Kebanyakan, isinya berupa hujatan dan sinisme. Keengganan menahan dan memendam sesuatu kini sudah jarang kita jumpai.
Setiap orang merasa memiliki ruang untuk mengeluarkan segala ekspresi serta keluh kesah. Kicauan dan deretan kata bertebaran di mana-mana.
Tak ada lagi privasi dan rahasia diri yang harus ditutupi. Diam pun seolah menjadi barang langka. Kita terlalu responsif bicara mengenai apapun walaupun terkadang tak membawa manfaat atau kebaikan apapun. Semua orang tiba-tiba dapat menjadi pengamat dadakan. Mereka menggunggah komentar, tanggapan, atau wacana atas berbagai peristiwa dan kejadian.
Terlebih membicarakan sesuatu, kini telah menemukan wadah dan tempat. Media televisi memberi porsi bagi suara pubik, membuat siapapun dapat berperan sebagai wartawan, pengamat, dan kritikus. Wadah bicara setiap orang dapat ditampung sepenuhnya di media sosial. Hampir semua orang memilikinya sehingga memungkinkan si pengguna tidak sekadar lebih narsistik, melainkan pula menjadi pribadi baru sebagai produsen informasi.
Hal-hal yang tidak penting seolah wajib diberitakan dan diketahui oleh khalayak. Kegiatan sehari-hari, mulai bangun tidur hingga menjelang tidur lagi, wajib dipublikasikan hanya untuk dibaca dan dilihat orang lain. Dengan demikian, saling silang informasi berjalan tanpa batas.
Orang yang tampak pendiam secara fisik, bisa berubah sangat cerewet di media sosial. Akibatnua, dewasa ini, keterbukaan informasi justru membuat manusia menjadi pribadi yang suka bicara dan gaduh. Kita melupakan arti penting diam atau menahan diri di balik karut-marut sebuah persoalan. Kita tak lagi dapat melakukan koreksi diri, sekaligus kontemplasi guna mendudukkan posisi dan implikasi dari kata-kata yang diproduksi. Yang penting, kemudian, adalah ngomong sebanyak-banyaknya.
Adakalanya, penting untuk menahan diri dengan cara diam. Di Jawa, ada ajaran pasa bisu atau puasa diam. Puasa semacam itu mengharuskan seseorang untuk beberapa waktu tak berkata apapun dan mengomentari apapun. Puasa ala Jawa tersebut lebih mengedepankan tindakan daripada ucapan.
Konon puasa itulah yang paling berat di antara puasa-puasa lokal lain, semisal ngeli, pendem, mutih, geni, dan nyenen-kemis. Kemampuan untuk tidak mengeluarkan pernyataan apapun melatih diri lebih bijak dan arif dalam memandang sesuatu.
Diamnya seseorang bukan berarti tidak mengerti dan memahami persoalan. Sebaliknya, diam adalah upaya untuk melihat persoalan secara lebih jernih, mengolah dan menganalisisnya lewat batin dan pikiran. Pelajaran berharga dari pasa bisu adalah untuk tidak terburu-buru dalam berkata atau mengomentari sesuatu. Sebab, seringkali, perkataan atau komentar yang terburu-buru justru salah dan luput, bahkan menimbulkan fitnah baru dan dosa.
Filosofi "lidah tak bertulang" menjadi gambaran tajam dan lenturnya mulut dalam berbicara. Anarkisme banyak terjadi karena saling ejek dan perang kata-kata kasar. Di satu sisi, kita menuntut kebebasan berbicara dengan alasan menghargai kebebasan berpendapat.
Di lain sisi, kebebasan tersebut justru tampak banal: pendapat atau pernyataan yang dilontarkan tak sesuai realitas alias mengada-ada. Dalam hadis, Nabi Muhammad bersabda, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau lebih baik diam".
Artinya, apabila ucapan tidak membawa manfaat dan kebaikan, alangkah lebih bijak jika diam. Puasa diam berarti memuliakan lidah.
Saat mencoba mengambil makna positif, keterbukaan informasi sebenarnya dapat menjadi momen dan waktu tepat untuk melatih menahan diri. Seseorang akan tampak lebih indah jika berpaku kepada perbuatan yang mengandalkan tindakan daripada ucapan.
Bukankah Tuhan lebih menyukai hamba yang berbuat daripada sekadar berucap? Sayang, diam bukan lagi dianggap sebagai sebuah ritus nan sakral. Diam justru dianggap sebagai sebuah kekalahan dan ketidakmampuan. Jadi, wajar jika manusia di negeri ini menjadi terlalu berisik. (Aris Setiawan: Penulis, Pengajar di ISI Solo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/diam-diam_20160229_091628.jpg)