Tribun Community

Trotoarku Sayang di Semarang Beralih Fungsi

Minimnya sarana trotoar di Kota Semarang mendorong sejumlah orang membentuk Koalisi Pejalan Kaki Kota Semarang (KPKS).

Trotoarku Sayang di Semarang Beralih Fungsi
tribun jateng/Khoirul Muzakki
UNIK- Trotoar berkelok di Jalan S Parman Kota Semarang indah dipandang 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Minimnya sarana trotoar di Kota Semarang mendorong sejumlah orang membentuk Koalisi Pejalan Kaki Kota Semarang (KPKS). Tak jarang, hasil diskusi dan susur jalan yang mereka lakukan menjadi bahan pertimbangan Pemkot Semarang mengambil kebijakan.

Lumpuh pada kedua kaki memaksa Yuktiasih Proborini beraktivitas di atas kursi roda. Hanya saja, ruang gerak di luar ruangan semakin terbatas lantaran fasilitas umum, khususnya trotoar di Semarang, dirasa tak ramah baginya.

"Sebagai misal di kawasan RSUP Kariadi. Trotoar di kawasan ini banyak yang jadi tempat parkir dan tempat berjualan PKL sehingga kami sulit melewati. Akhirnya, banyak pejalan yang terpaksa berjalan di badan jalan yang peruntukannya bagi kendaraan. Tentu tak nyaman dan membahayakan," keluh Yuktiasih.

Wanita yang aktif di media sosial ini langsung bergabung saat ada grup Koalisi Pejalan Kaki Kota Semarang (KPKS) di Facebook. Komunitas ini punya konsentrasi pada pedestrian trotoar dan kampanye berjalan kaki untuk mengurangi kemacetan lalu lintas. Tak sekadar berdiskusi di laman media sosial, anggota KPKS juga aktif berkegiatan di lapangan.

Di antaranya, susur jalan untuk melihat dan menginventarisasi trotoar di Kota Semarang. Di sela kegiatan itu, mereka juga memberi pemahaman kepada warga pentingnya keberadaan trotoar.

Tak sekadar menjadi anggota pasif, Yuktiasih turut serta dalam diskusi dan kegiatan yang digelar komunitas tersebut. Dia tak segan memberi pemahaman kepada tukang becak atau PKL yang memanfaatkan trotoar sebagai tempat mengkal. Juga, mendorong mereka ikut peduli pada pejalan kaki dan difabel yang membutuhkan trotoar.

"Komunitas ini membuat saya lebih kritis menyikapi persoalan fasilitas publik di Semarang," ujar perempuan yang juga aktif di Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jateng ini.

Keberadaan KPKS juga menarik perhatian Agung. Dosen Planologi di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang ini memanfaatkan komunitas tersebut mengembangkan keilmuan terkait penataan kota.

"Saya mendapat banyak ilmu dari pengalaman teman-teman di forum diskusi KPKS. Informasi yang saya dapat dari mereka ini bisa menjadi pertimbangan kajian yang tengah saya lakukan di bidang keilmuan saya ini," kata dia.

Meski diskusi KPKS banyak dilakukan di dunia maya, hasilnya cukup besar memengaruhi kebijakan pemerintah kota (Pemkot) khususnya saat akan membuat pedestrian jalan. Semisal, pedestrian di kawasan Jalan Pemuda dan Jalan Pahlawan. Dulu, Agung menyebut, dua kawasan ini lebih banyak dipenuhi pedagang kaki lima. Masukan dari KPKS mendorong Pemkot Semarang merapikan kawasan tersebut dan membersihkan dari PKL yang menghalangi akses pejalan kaki.

"Tapi, bukan berarti selesai. Kami, dari KPKS terus mendorong upaya mengembalikan fungsi trotoar di tempat lain, termasuk di dalamnya keselamatan bagi pejalan kaki dan difabel. Karena, saat ini, kalau dilihat, masih banyak pedestrian yang tak memerhatikan secara matang persoalan keselamatan dan kenyamanan akses trotoar ini," ungkapnya.

Sebagai pegiat di KPKS, Agung tak hanya rajin mengikuti kegiatan diskusi yang digelar tetapi juga mendorong orang-orang di sekitarnya peduli terhadap trotoar, pejalan kaki dan difabel. Agung juga tak sungkan mengajak mahasiswanya terlibat di kegiatan KPKS.

"Bagi saya, terlibat di KPKS bisa mendekatkan diri pada permasalahan yang ada di masyarakat. Itu sebabnya, saya ajak mahasiswa ikut terlibat supaya mereka juga bisa mengerti dan mengaplikasikan keilmuan yang didapat secara maksimal. Syukurlah mereka menyambut baik, bahkan antusias," terangnya. (galih priatmojo)

Penulis: galih permadi
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved