Punya Balita Pemalu dan Minder? Ini Dia Tips Tumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak

Punya Balita Pemalu dan Minder? Ini Dia Tips Tumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak

Punya Balita Pemalu dan Minder? Ini Dia Tips Tumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak
TRIBUNJATENG/HERMAWAN HANDAKA
FOTO ILUSTRASI untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada anak, diperankan oleh Inez Vanessa (Ibu) dan Jilan Safiyya (anak) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Mempunyai putri pemalu menjadi tantangan bagi Lia Magdalena. Ibu rumah tangga tersebut menduga, sifat pemalu anak sewata wayang, Putri Rosalia Magdalena (5), diturunkan dari sang ayah.

Menurutnya, sikap pemalu dan kurang percaya diri anak sudah muncul sejak umur dua tahun. Ini terlihat saat Putri menangis ketika digendong orang lain. Saat berkumpul bersama keluarga besar pun, buah hatinya tidak ingin jauh dari sang mama. "Disuruh main bersama saudara atau tetangga tidak mau, pinginnya sama mama terus," kata Lia.

Wanita yang tinggal di Perumahan Bringin Asri, Kota Semarang, ini khawatir, kondisi ini memengaruhi kehidupan sosial buah hati kelak. Lia pun mencari solusi lewat perhatian dan dorongan agar Putri menekuni apa yang digemari. Cara ini ternyata berhasil. "Putri suka menari jadi saya berinisiatif mendaftarkan dia les menari. Awalnya takut tapi lama kelamaan dia berani," jelas Lia.

Alumni Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini memupuk rasa percaya diri anaknya lewat pujian yang diberikan seusai tampil di panggung. "Saat ulang tahun suami, saya ajak Putri menari sebagai hadiah untuk papanya. Dia pun merasa dihargai dan senang bisa menghibur," ceritanya.

Beda dengan Lia, Ana Anoegraini tidak perlu berpikir keras membuat Dhatuwangi Kirana Maheswarih percaya diri. Sebaliknya, guru SD 1 Kesambi, Kudus, ini kaget, saat buah hati ingin ikut mengaji bersama teman-teman di lingkungan tanpa diantar.

Ana percaya, keberanian Dhatu diperoleh melalui proses. Istri Kukuh Dwi Mulyanto ini mengungkapkan, sejak bayi, dia sering mengajak berbicara dan memberi pujian kepada sang putri. "Sekecil apapun yang dilakukan Dhatu, saya beri pujian serta pelukan. Misalkan, saat minta tolong buang sampah pada tempatnya, saya bilang "anak mama pintar" sambil memeluk dan mencium," terang Ana.

Ana tidak membatasi pergaulan Dhatu selama masih dalam satu lingkungan. Hasilnya, putri kecilnya tidak canggung bila kumpul bersama teman sebaya, seperti acara lomba peringatan kemerdekaan dan tampil di pentas seni.

Sampaikan Kritik Beserta Solusi

Menumbuhkan rasa percaya diri pada anak penting dilakukan sejak dini. Psikolog dari Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang Chritine Wibowo SPsi MSi memberi beberapa tips yang bisa dilakukan orangtua, di antaranya:

1. Bantu anak memahami kelemahan dan kelebihan.
Fokuskan pada kelebihan buah hati. Misalnya, anak tidak bisa olahraga tetapi pintar di matematika, fokus di bidang ini sehingga anak bisa percaya diri bahwa dia bisa berhasil walau di bidang lain agak gagal.

2. Jangan sering beri perintah atau kritik tanpa solusi.
Misalkan, jangan langsung menyuruh anak belajar lewat kalimat "ayo belajar". Sebaiknya, amati mengapa anak malas atau tidak mau belajar sehingga bisa ditemukan solusi.

3. Jangan suka menakut-nakuti anak.
Berikan konsekuensi dan solusi, bukan menakuti. Misal, jangan menggunakan kalimat "Kalau buang sampah tidak pada tempatnya nanti dimarahin bapak itu lho". Sebaiknya, ganti menggunakan kalimat yang menimbulkan akibat. "Kalau tidak buang sampah ditempatnya maka adik akan repot karena nanti kita juga yang harus membersihkan". Dengan demikian, anak akan percaya diri dan rendah hati.

4. Orangtua adalah contoh yang terbaik.
Tunjukkan bahwa ayah dan ibu juga percaya diri tetapi bukan sombong.

5. Ajarkan anak mengatasi persoalan pribadi sesuai usia.
Semisal, anak lupa mengerjakan pekerjaan rumah, orangtua jangan mengambil alih tanggungjawab. Anak harus menjelaskan alasan dia tak mengerjakan pekerjaan rumah. Tetapi, jika anak kesulitan tentang suatu hal, orangtua harus meyakinkan, mereka siap menjadi yang pertama membantu anak.

6. Percayalah pada anak.
Jangan suka mencurigai anak tetapi tanamkan keterbukaan. Bila orangtua terbiasa terbuka, anak pasti terbuka. Jangan bereaksi berlebihan jika anak menumpahkan isi hati atau bercerita sehingga anak merasa nyaman. (tribunjateng/dini suciatiningrum)

Penulis: dini
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved