Opini

Semiotika Pagar

Di banyak perkampungan atau perumahan, lazimnya rumah-rumah berpagar tinggi. Konon tujuannya agar lebih aman dan nyaman.

YouTube
Rumah adat kudus 

tribunjateng.com -- Di banyak perkampungan atau perumahan, lazimnya rumah-rumah berpagar tinggi. Konon tujuannya agar lebih aman dan nyaman. Hal ini terkait berbagai berita kriminal yang dipublikasikan setiap hari di media membuat banyak orang semakin cemas dan risau, terutama jika rumahnya belum dipagari atau pagarnya dianggap kurang tinggi.

Begitulah faktanya, membangun pagar tinggi-tinggi dianggap sangat penting. Kemudian, banyak orang seolah-olah berlomba-lomba membangun pagar tembok tinggi-tinggi. Alasannya, pagar demikian terkesan sangat kokoh dan aristokrat, seperti pagar-pagar istana atau pagar-pagar keraton.

Kini, bentuk pagar yang terkesan agak ramah seperti pagar terali besi dianggap kurang aman. Pasalnya, pagar jenis terali tetap bisa memberi kesempatan bagi pihak di luar untuk melihat ke dalam. Kalau kebetulan yang lewat di depan pagar adalah penjahat, bisa justru berbahaya jika dia sudah bisa melihat keadaan di dalam pagar yang terkesan menyimpan banyak harta.

Dengan demikian, banyak orang yang telanjur membangun pagar terali merasa sama dengan tidak punya pagar alias tidak aman. Atau, penjahat bisa saja memanjat pagar setelah mengamati dari luar, sehingga justru kesannya tidak aman kalau rumah dipagari jenis terali besi.

Masalah pagar memang bisa betul-betul dilematis. Lebih penting mana antara estetika dengan sekuritas? Dan, karena semakin banyak kasus kejahatan, banyak orang kemudian mengatasi dilematika ini dengan pertimbangan sekuritasnya saja. Dalam hal ini, estetika tidak penting lagi bahkan bisa dianggap memperbanyak risiko.

Faktanya, banyak orang ingin hidup tenang dengan tinggal di rumah berpagar tinggi, sehingga semakin banyak rumah berpagar tinggi-tinggi. Bahkan ada yang berpagar tembok setinggi 5-6 meter sehingga mirip rumah tahanan atau penjara. Ada juga rumah yang berpagar tembok setinggi 3 meter dan di atasnya dipasang terali besi baja setinggi tiga meter sehingga mirip kebun binatang.

Tapi benarkah pagar tinggi bisa menjamin keamanan? Jawabannya tidak selalu positif. Banyak contoh kasus kejahatan justru kebetulan terjadi di dalam rumah berpagar tinggi. Misalnya, sejumlah kasus perampokan dengan kekerasan berlangsung di rumah yang berpagar tembok tinggi.

Jika kejahatan berlangsung di dalam rumah berpagar tinggi, memang tidak langsung bisa diketahui oleh masyarakat sekitarnya. Karena itu, banyak orang kemudian memilih untuk tidak memagari rumahnya dengan pagar tinggi-tinggi.

Alasannya, rumah tanpa pagar kesannya justru dianggap lebih aman. Kesan ini muncul biasanya karena tuan rumah merasa sudah punya “pagar sosial” yang jauh lebih layak diandalkan. Yang dimaksud dengan “pagar sosial” adalah sikap dan perilaku yang baik kepada masyarakat sekitar sehingga semua anggota masyarakat merasa berkewajiban untuk saling melindungi dan menolong.

Bagi anggota masyarakat yang sudah cukup makmur, tentu lebih mudah membangun “pagar sosial”. Caranya, tentu saja dengan menghayati gaya hidup altruistik atau dermawan. Misalnya, bersedia menyantuni tetangga dekatnya yang kurang mampu, atau mendanai pembangunan jalan dan gorong-gorong di sekitarnya.

Dalam rumus agama, kedermawanan memang bisa mencegah balak atau bahaya. Maka dalam agama-agama berlaku ajaran ritual bersedekah atau membagi-bagikan rezeki yang berarti berbagi kenikmatan yang diperolehnya.
Simbol Kebangsawanan

Namun, data empiris menunjukkan bahwa di dalam masyarakat Indonesia sejak dulu selalu ada fenomena rumah berpagar tinggi. Yakni rumah-rumah kaum bangsawan, seperti yang banyak terdapat di lingkungan Keraton yang tersebar di sejumlah daerah.

Dengan demikian, fenomena rumah berpagar tinggi justru dimunculkan oleh kaum bangsawan, bukan rakyat jelata. Lebih jelasnya, rumah berpagar tinggi merupakan simbol kebangsawanan.

Hingga kini, kaum bangsawan di berbagai daerah tampaknya terus memopulerkan fenomena rumah berpagar tinggi. Buktinya, setiap ada rumah baru berpagar tinggi di suatu daerah dapat dipastikan dimilliki oleh keturunan bangsawan atau mereka yang meniru-niru pola hidup bangsawan seperti suka berbangga-bangga dengan gelar dan kekuasaan. Dan, di banyak daerah, semakin banyak rumah berpagar tinggi yang dimiliki oleh elite politik atau pejabat dan mantan pejabat.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved