Pro dan Kontra Pembangunan Hotel Tentrem di Dekat Simpanglima Kota Semarang
Pro dan Kontra Pembangunan Hotel Tentrem di Dekat Simpang Lima Kota Semarang
Penulis: galih permadi | Editor: iswidodo
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Galih Permadi
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Pengelola Hotel, Mall, dan Apartemen Tentrem bekerjasama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang menggelar public hearing di Gedung Moch Ichsan Lantai 8 Balai Kota Semarang, Selasa (29/3).
Acara tersebut dihadiri beberapa arsitektur dan warga Pekunden yang berdampingan dengan lokasi pembangunan Hotel Tentrem di Jalan Gajahmada.
Bangunan Hotel Tentrem akan melewati jalan umum untuk menghubungkan akses dua bangunan bertingkat. Selama jalan tersebut digunakan sebagai akses warga. Konsepnya seperti jalan penghubung Simpanglima Plasa.
Ketua Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Tengah, Satrio Nugroho mendukung adanya pembangunan hotel, mall, dan apartemen tersebut. Namun dia menekankan jika ruang publik jelas tidak bisa diganggu gugat untuk kepentingan privat. "Namun bukan tidak boleh dibuat bangunan. Tetap bisa dibuat bangunan tapi untuk kepentingan publik dan bisa diakses 24 jam. Kalau dijadikan lobi tentu orang akan segan melewati. Mestinya seperti Simpanglima Plasa ada akses 24 jam. Kami harap pengelola hotel bisa mempertimbangkan ulang konsepnya," ujarnya.
Seorang warga sekaligus pengelola Klenteng San Khing Tong, Abien mengatakan dirinya khawatir dengan rencana pembangunan hotel yang bisa membuat klenteng rusak. Padahal klenteng tersebut sudah berusia puluhan tahun. "Klenteng San Khing Tong berada di dekat lokasi hotel. Nanti kalau dikeruk-keruk bisa merusak bangunan kuno klenteng. Nanti kami keluar uang untuk membangunnya. Ini merugikan kami," ujarnya.
Sementara itu, Ketua RW 5 Kelurahan Pekunden, Djuadji mengatakan pihaknya telah mengikuti empat kali sosialisasi pembangunan Hotel Tentrem. Pihaknya sepakat dengan pembangunan hotel asalkan beberapa syarat dipenuhi yakni adanya program CSR, pihak hotel mengadakan pasokan air melalui PDAM, dan material untuk membangun hotel jangan sampai menimpa rumah warga.
"Pengalaman sebelumnya saat ada pembangunan hotel di wilayah kami, pihak hotel tidak memberikan CSR dan rumah warga ada yang terkena material pembangunan hotel. Jangan sampai itu terjadi saat pembangunan Hotel Tentrem," ujarnya.
Syarat lain, kata Djuadji, pengelola Hotel Tentrem bisa merekrut warga untuk bekerja di hotel tersebut sesuai dengan kemampuan. Juga akses jalan yang berada di antara bangunan tetap bisa dilewati. "Kami harap keberadaan Hotel Tentrem bisa membuka lapangan kerja bagi warga sekitar dengan posisi sesuai dengan kemampuan warga sehingga bisa mengurangi pengangguran," ujarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/hotel-tentrem-akan-dibangun-di-sini_20160329_184813.jpg)