Berapa Jumlah Titik Prostitusi di Indonesia? Ini Jawabannya

Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, mengungkapkan hal itu di sela-sela menghadiri acara Penyerahan Bantuan Sosial program PKH

Berapa Jumlah Titik Prostitusi di Indonesia? Ini Jawabannya
tribunjateng/dok
Mensos Khofifah Indar Parawansa 

TRIBUNJATENG.COM, LAMONGAN - Dari hasil pemetaan sejak 29 Januari 2016 lalu oleh Kementerian Sosial bekerja sama dengan Dinas Sosial (Dinsos), masih ditemukan ada 100 titik prostitusi tersebar di Indonesia yang masih beroperasi. Pemerintah menargetkan pada 2019 sudah tidak ada lagi dan saat ini sudah mulai dilakukan penutupan secara bertahap.

Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, mengungkapkan hal itu di sela-sela menghadiri acara Penyerahan Bantuan Sosial program PKH di Kantor Kecamatan Lamongan, Minggu (17/4/2016).

Menurut Mensos masih adanya 100 titik lokasi prostitusi tersebut, setelah melakukan rakor pada 29 Januari 2016 soal pemetaan lokalisasi prostitusi. Bahkan usai rakor tersebut lanjutnya, Mei ini di Kota Mojokerjo, Jawa Timur, dan Tangerang, Banten, akan dilakukan penutupan lokalisasi.

Penutupan ini seperti dilakukan Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur yang sudah menutup dua lokalisasi dari 33 yang ada.

"Pada Mei ini, akan dilakukan penutupan lokalisasi prostitusi di Mojokerto dan Tangerang. Sedangkan, di Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim) 2 lokasi akhir Februari 2016 telah ditutup," ucapnya.

Sesuai tugas dan fungsi Kementerian Sosial lanjut Khofifah, ia akan memberikan support kepada para wanita eks lokalisasi, berupa bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP), Jaminan Hidup (Jadup), serta transportasi lokal (translok).

"Besaran UEP Rp 3 juta, Jadup Rp 900.00, serta translok, sehingga total bantuan bagi para bekas wanita penghuni lokalisasi Rp 5.053.000," jelas dia.

Selain itu, diberikan pelatihan kejuruan, berupa keterampilan membuat kue, menjahit, membordir, dan lain sebagainya.Tahun lalu, di 5 titik, 400 wanita mantan pekerja di lokalisasi mengikuti program tersebut.

"Selama 6 bulan mereka di sana dan didampingi petugas, sehingga ketika keluar bisa membuka berbagai usaha, baik yang pulang kampung ataupun tidak,"katanya. 

Bagi mereka yang memilih pulang kampung, di sana bisa membuka usaha sesuai dengan potensi daerah tersebut, seperti usaha pertanian bagi daerah yang subur tanahnya ataupun usaha di sektor agro.

"Mereka yang pulang kampung bisa membuka usaha sesuai potensi daerahya, misalnya di Malang bisa menanam bawang dengan menyewa tanah dan berkelompok atau bisa juga membudidayakan ikan mujair, dan lainnya," tandas Mensos. (surya)

Editor: galih pujo asmoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved