Gawat, Kredit Macet di Perbankan Terus Naik Mendekati 3 Persen

Gawat, Kredit Macet di Perbankan Terus Naik Mendekati 3 Persen

Gawat, Kredit Macet di Perbankan Terus Naik Mendekati 3 Persen
tribunjateng/dok
UANG RUPIAH 

TRIBUNJATENG.COM - Bankir harus bekerja ekstra keras agar tetap sehat hingga akhir tahun. Pasalnya, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) terus mengalami kenaikan, meski penyaluran kredit masih melambat.

Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, rasio NPL perbankan naik 38 basis poin (bps) menjadi 2,86 persen per Februari 2016 ketimbang akhir 2015 (year to date).

Selama dua bulan pertama tahun ini, kenaikan NPL tertinggi dialami bank kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU) II atau bank ukuran sedang. NPL bank BUKU II naik 48 bps, tertinggi ketimbang bank kategori lain (lihat tabel). Kenaikan NPL yang hampir menyentuh level 3 persen itu menarik perhatian otoritas.

Kepala Departemen Pengawas Pembangunan dan Manajemen Krisis OJK, Dhani Gunawan Idat menyampaikan, regulator akan mewaspadai kredit bermasalah agar tidak terus meningkat.
Dewan Komisioner OJK Bidang Perbankan, Nelson Tampubolon menuturkan, penyebab kenaikan NPL antara lain karena pertumbuhan kredit sangat lambat, sehingga nilai pembaginya tidak tumbuh.
Menurut dia, kondisi makro yang lesu membuat pendapatan perusahaan turun. OJK menyatakan, rasio NPL sejatinya masih jauh dari batas maksimal rasio NPL yang dipatok di level 5 persen.
Data NPL yang direkam OJK merupakan NPL gross. "Sedangkan, NPL nett masih bisa dijaga," katanya, kepada Kontan, Senin (18/4).

Dipicu komoditas

Dhani menambahkan, tren kenaikan kredit macet itu dipicu lesunya sektor komoditas yang kemudian merembet ke sektor lain. Memburuknya harga komoditas telah berimbas negatif terhadap sektor konstruksi, perdagangan besar dan kecil, serta perikanan.

OJK mencatat, NPL sektor pertambangan dan penggalian sebesar 4,63 persen atau senilai Rp 5,62 triliun per Februari 2016, secara tahunan (year on year/yoy). Kenaikan NPL itu dibarengi dengan penurunan penyaluran kredit sebesar 11 persen pada periode yang sama.

Selain itu, NPL sektor kontruksi tercatat sebesar 4,84 persen, NPL sektor perdagangan besar dan kecil sebesar 4,22 persen, kemudian rasio kredit macet sektor perikanan sebesar 3,35 persen.
Meski kenaikan NPL tertinggi dialami bank ukuran sedang, bank besar atau BUKU IV pun tak lepas dari bayang-bayang NPL. Contoh, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) yang mencatat kenaikan NPL gross menjadi 2,8 persen per Maret 2016 ketimbang 2,1 persen per Maret 2015.

Direktur Bisnis Banking I BNI, Herry Sidharta mengatakan, penyumbang kredit bermasalah berasal dari kenaikan NPL kredit menengah di sektor perdagangan, perhotelan dan pariwisata.
Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk, Parwati Surjaudaja menyampaikan, rasio NPL tak banyak berubah di kuartal I/2016, atau di kisaran 1,46 persen.
"Tahun ini kami upayakan tetap menjaga NPL di bawah 2,5 persen," ujarnya. (Kontan/Nina Dwiantika/Arsy Ani Sucianingsih)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved