Rabu, 13 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tahukan Kamu, Indonesia Jadi Korban Bully dan Ada Empat Kelompok Hacker Besar yang Fokus Menyerang?

Perusahaan keamanan cyber FireEye mengungkap bahwa Indonesia saat ini seperti jadi negara korban bully

Tayang:
Editor: muslimah
ist
Ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM - Perusahaan keamanan cyber FireEye mengungkap bahwa Indonesia saat ini seperti jadi negara korban bully karena sering "dikerjai" oleh negara-negara lain.

FireEye mengungkap bahwa persentase serangan cyber ke Indonesia ternyata lebih tinggi dari pelanggan layanannya di negara lain. Jumlahnya mencapai dua kali lipat.

Diketahui, jumlah pelanggan FireEye di Indonesia yang mendapat serangan cyber sebanyak 36 persen dari total jumlah pelanggan global. Sementara, pelanggan di luar negeri hanya 15 persen.

Sayangnya, FireEye menolak menyebut berapa jumlah kliennya yang ada di Indonesia.

Menurut Chief Technology Officer FireEye, Bryce Boland, ada beberapa motivasi serangan cyber ke perusahaan-perusahaan di Indonesia, seperti politis, finansial, ekonomi, serta politik dan keamanan.

Bryce juga mengungkap bahwa saat ini ada empat kelompok hacker besar yang fokus menyerang Indonesia. Kelompok tersebut terdiri atas tiga kelompok besar dari China dan satu kelompk dari Eropa Timur.

Upaya untuk menangkal serangan cyber ke Indonesia juga dirasa masih minim.

"Tingkat kematangan Indonesia dalam hal cyber security masih rendah, kebanyakan perusahaan dan organisasi di Indonesia masih dalam tahap deteksi saja," kata Boland dalam acara jumpa media di Jakarta, Selasa (19/4/2016).

Untuk diketahui, tingkat kematangan cyber Indonesia oleh FireEye dinilai ada di peringkat ke-14. Tanah Air mendapat skor 46,4 di antara negara-negara di Asia, Australia, dan Jepang. Indonesia bahkan berada di bawah India, Thailand, dan Filipina.

Tingkat kematangan dan kesadaran keamanan cyber ini oleh FireEye dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap deteksi, tahap respons, dan tahap hunting (berburu).

Negara-negara yang sudah matang cyber security-nya sudah aktif berburu siapa yang mencoba menyerang mereka meski tidak ada deteksi ancaman.

"Perusahaan dan organisasi di Indonesia masih mengandalkan teknologi lama yang sudah ada sejak 15 tahun lalu, seperti firewall dan anti-virus saja," kata Boland.

Lantas apa yang perlu dilakukan agar Indonesia tidak terus menerus dijadikan sebagai obyek bully oleh negara lain, melainkan menjadi negara pemburu para penyerang cyber?

Boland mengatakan tidak ada satu solusi yang bisa memecahkan semuanya (silver bullet). Menurutnya harus ada intelligence awareness dari semua level, mulai dari pemerintah hingga pelaku industri.

"Dibutuhkan framework yang bisa mengidentifikasi kejahatan sebelum terjadi, sementara pemerintah bisa menyiapkan sistem hukum peradilannya," pungkas Boland. (*)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved