Peneliti : Tak Ada yang Bisa Kalahkan Ahok Kecuali Ada Bom Duit Jatuh di Jakarta

Berdasarkan hasil survei itu, elektabilitas Ahok tetap unggul dibanding bakal calon gubernur lainnya meskipun dia sedang diterpa sejumlah kasus.

Peneliti : Tak Ada yang Bisa Kalahkan Ahok Kecuali Ada Bom Duit Jatuh di Jakarta
DANY PERMANA
Basuki Tjahaja Purnama mengucapkan sumpah jabatan saat dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta untuk sisa masa jabatan 2012-2017, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (19/11/2014). Basuki yang akrab disapa Ahok merupakan gubernur ketiga yang dilantik langsung oleh presiden setelah Ali Sadikin yang dilantik Presiden Soekarno dan Sri Sultan Hamengku Buwono X yang dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. TRIBUNNEWS/DANY PERMANA 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA — Peneliti Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ikrar Nusa Bhakti, menyebut bahwa saat ini warga Ibu Kota sudah cerdas untuk memilih pemimpinnya.

Hal itu terlihat dari hasil survei Populi Center yang dilakukan pada 15-21 April 2016.

Berdasarkan hasil survei itu, elektabilitas Ahok tetap unggul dibanding bakal calon gubernur lainnya meskipun dia sedang diterpa kasus pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras dan dugaan suap reklamasi Pantai Utara Jakarta.

"Orang sekarang enggak bodoh lagi, mereka makin cerdas menilai mana yang benar, mana yang salah. Semakin dikuyo-kuyo (dizalimi), rakyat akan makin menyatu mendukung Ahok," kata Ikrar dalam rilis yang diterima wartawan, Selasa (25/4/2016).

Berdasarkan survei yang dirilis Populi Center pada 25 April 2016, sebanyak 73,7 persen masyarakat puas dengan kinerja Ahok.

Kemudian, 81,5 persen masyarakat puas dengan kepemimpinan Ahok dan 73,3 persen masyarakat puas dengan kinerja Pemprov DKI Jakarta.

Sementara itu, elektabilitas Ahok naik dari 49,5 persen pada bulan Februari menjadi 50,8 persen pada bulan April. Bahkan, menurut dia, bakal calon gubernur lain sulit menyaingi elektabilitas dan popularitas Ahok.

"Mau pencitraan gaya apa pun tidak mungkin bisa mengalahkan Ahok, kecuali ada bom duit jatuh di Jakarta," kata Ikrar.

"Karya monumental mereka apa? Yang pengusaha, karyawannya sudah diberi upah secara baik tidak? Lebih gede daripada UMR enggak?"

"Kalau ada perusahaannya yang ditutup, mantan karyawannya diberi pesangon gede dan tepat waktu enggak? Yang (mantan) menteri, ada warisan yang monumental enggak?" kata Ikrar menyindir para pengusaha dan mantan menteri yang berniat maju dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017.

Survei Populi Center melibatkan 400 responden di enam wilayah DKI Jakarta dan dilakukan dengan wawancara tatap muka pada 15-21 April 2016.

Ratusan responden ini dipilih secara acak bertingkat atau multistage random sampling dengan margin of error lebih kurang 4,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Editor: tri_mulyono
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved