Liputan Khusus
Sertifikasi Terbukti Sejahterakan Guru. Gaya Hidup Guru Pun Berubah!
Sebelum menerima tunjangan sertifikasi guru, Yuwono mengaku kehidupannya serba kekurangan. Meski berstatus pegawai negeri sipil (PNS)
TRIBUNJATENG.COM - Kondisi ekonomi seorang guru di satu SMP Negeri di Kabupaten Sragen, Yuwono (45), berubah setelah menerima tunjangan sertifikasi. Ia kini bisa membangun rumah dan membeli barang-barang berharga.
Sebelum menerima tunjangan sertifikasi guru, Yuwono mengaku kehidupannya serba kekurangan. Meski berstatus pegawai negeri sipil (PNS), penghasilannya masih belum mencukupi untuk kebutuhan keluarga. "Saya sampai ambil pinjaman ke bank untuk kebutuhan keluarga. Hanya mengandalkan gaji pokok sebagai PNS tidak cukup," kata warga Karangmalang, Sragen, itu pada Tribun Jateng, kemarin.
Konsentrasi Yuwono buyar karena dikejar-kejar melunasi cicilan tiap bulan. Ia yang kebetulan dipercaya menjadi bendahara dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) akhirnya terpaksa menggunakan dana tersebut. Ia sempat menggunakan dana BOS untuk membiayai usahanya demi mendapat penghasilan tambahan. "Yang penting saat dana dibutuhkan, saya bisa mengeluarkan. Jadi, dana BOS yang saya pegang, saya putar," ujarnya.
Kondisi ekonominya berangsur berubah setelah menerima tunjangan sertifikasi. Yuwono dapat melunasi semua utang-utangnya di bank. Posisinya sebagai bendahara BOS di sekolah pun ia tinggalkan. Kini, tidak hanya menutup pinjaman bank, ia juga mampu membeli berbagai barang elektronik dan barang berharga lainnya. "Dari tunjangan sertifikasi itu, saya bisa membeli antena parabola, AC, sepeda motor dan perhiasan untuk istri. Jadi serba kecukupan lah," ucapnya.
Yuwono kini masih meminjam dana bank. Hanya saja, uang itu diperuntukkan untuk membangun rumah yang sekarang ditempatinya. "Saya tidak merasa keberatan membayar cicilan tiap bulan karena ada tunjangan sertifikasi," katanya.
Tina, seorang staf Tata Usaha sebuah SMA Negeri di Kota Semarang terkadang merasa iri dengan para guru yang sudah bersertifikasi. Menurutnya, tunjungan sertifikasi membuat gaya hidup beberapa guru berubah drastis.
Hal yang paling menyakitkan baginya yang hanya staf biasa adalah ketika para guru membahas tunjangan profesi.
"Mereka kadang masih ngeluh ketika tunjangannya terlambat cair di depan kami yang hanya karyawan biasa," ucapnya. Menurutnya sebagian besar guru kini menjadi lebih kaya. “Sekarang banyak mobil guru ada di parkir sekolah,” katanya.
Namun, menurut Tina, beberapa guru tidak terpengaruh adanya tunjangan sertifikasi. Gaya hidup mereka tetap sederhana sejak awal. "Tidak semua sih. Masih ada guru senior yang gaya hidupnya tidak berubah, biasa saja meski menerima tunjangan profesi," ucapnya.
Ibarat buka puasa
Perubahan gaya hidup guru penerima tunjangan profesi diakui Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Tengah, Widadi. Ia mengibaratkan, guru penerima sertifikasi seperti berbuka puasa. Setelah seharian menahan lapar dan haus, mereka kemudian makan dan minum sepuasnya.
Widadi mengatakan, sebelum ada tunjangan profesi, banyak guru meski berstatus PNS selalu kekurangan. "Para guru itu kaget karena dapat uang banyak. Ada faktor psikis juga. Jika sebelumnya mereka ibaratnya puasa lama, lalu berbuka. Mereka akhirnya makan dan minum sepuasnya," kata Widadi pada Tribun Jateng, kemarin.
Fenomena tersebut paling banyak terjadi pada guru di Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia mengaku beberapa kali menerima laporan dan mengetahui sendiri perubahan gaya hidup para guru.
Ia menyatakan beberapa guru menggunakan tunjangan sertifikasi untuk membeli mobil, berangkat umrah dan pergi haji. "Banyak yang bisa dilakukan dengan dana tunjangan itu," katanya.(tim)
Selengkapnya Baca Liputan Khusus Tribun Jateng edisi Senin (2/5/2016)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/guru-2_20160323_173834.jpg)