Ngopi Pagi

Warisan Darsi-Rusman

Pregiwa adalah kekasih sejati Gatotkaca. Darsi dan Rusman Hardjawibaksa dikenal paling menghayati memerankan sepasang kekasih dalam jagad wayang itu

TRIBUNJATENG.COM -- Darsi berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti berisikan kedamaian. Makna indah itu milik perempuan bernama lengkap Darsi Pudyorin. Ia sangat populer di kalangan penggemar Wayang Orang (WO) Sriwedari, Solo. Suara dan tariannya pun indah, apalagi kalau memeran Pregiwa, tokoh wayang yang memiliki sifat dan perwatakan setia, baik budi, sabar dan jatmika.

Pregiwa adalah kekasih sejati Gatotkaca. Darsi dan Rusman Hardjawibaksa dikenal paling menghayati memerankan sepasang kekasih dalam jagad wayang itu. Kebetulan pula keduanya suami istri. Lebih lagi Rusman dikaruniai wajah ganteng dan kekar. Suaranya pun merdu, sehingga digambarkan setiap Rusman mengalunkan termbang kasmaran, Pangkur Palaran, dapat “melumpuhkan lutut” setiap perempuan.

Pada masa keemasan WO Sriwedari sekitar tahun 1960-1970, Darsi-Rusman yang menikah pada 1946 itu menjadi idola. Apalagi Rusman yang ganteng bikin setiap perempuan tak tahan menggodanya. Tapi semua itu tak membuat mereka lupa daratan. Rumah tangganya damai bak makna Darsi. Rahasianya? Dalam sebuah wawancara dengan Kompas tahun 1982, Rusman mengibaratkan istrinya sebagai, “tali yang mengendalikan saya dari perbuatan tak wajar.”

Peran sebagai Gatotkaca dan Pregiwa itu benar-benar merasuk dalam jiwa Rusman-Darsi. Menghayutkan perasaan setiap orang. Tidak heran jika Proklamator dan Presiden Pertama RI Soekarno juga terhanyut. Soekarno menjadi penonton tetap WO Sriwedari setiap tiga bulan sekali. Soekarno pun selalu mengundang Rusman-Darsi untuk pentas di Istana Negara setiap ada tamu negara.

Sedikit catatan, wayang orang merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional Jawa, khususnya Jawa Tengah. Cerita yang dimainkan didasarkan pada kisah Mahabrata dan Ramayana. WO Sriwedari sendiri pertama kali dipentaskan untuk umum pada masa pemerintahan Paku Buwono X (1893-1939). Semula pertunjukan wayang orang hanya bisa dinikmati kalangan keraton.

Pada 1920-an hingga 40-an terdapat pemain bernama Wugu Hardjawibaksa yang memerankan Gatotkaca dan Sastra Dirun yang memerankan Petruk. Penampilan keduanya sangat ditunggu penonton. Lalu, pada 1940-an hingga 1970-an muncul nama Rusman dan Darsi. Karena keahilannya dan pengabdiannya bagi kelompok WO Sriwedari, dibuatlah patung Rusman-Darsi saat memerankan Gatotkaca-Pregiwa di halaman Taman Sriwedari di semasa Wali Kota Solo dijabat Slamet Suryanto

Minggu dini hari, 15 Mei 2016, Darsi mengembuskan napas terakhir setelah sempat tergolek lemas selama 4 bulan di rumahnya, kawasan Kalitan, Solo, lantaran sakit. Darsi meninggal dalam usia 84 tahun, menyusul sang suami tercinta yang lebih dulu ke alam baka pada 1994. Dalam prosesi pemakaman, kepergian Darsi diiringi tembang Ketawang Rujit, yang dilantunkan seorang sinden. Tembang yang melambangkan seseorang menuju kesempurnaan.

Warisan Darsi-Rusman adalah pesan moral tentang “mengagungkan cinta”, yang bukan sebatas dalam panggung wayang, juga panggung nyata, kehidupan sehari-hari. Rusman-Darsi, Gatotkaca-Pregiwa, mengingatkan betapa pentingnya kehamonisan rumah tangga, yang mengajarkan anak-anak untuk saling mengasihi, tidak saling menyakiti, apalagi sampai memperkosa. (*)

Penulis: sujarwo
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved