Sabtu, 25 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ricuh Penggusuran PT KAI

Inilah Dugaan Penyebab Meninggalnya Warga Kebonharjo Saat Penertiban PT KAI

Diduga jiwanya tertekan melihat rumahnya akan digusur, Jamian mendadak tak sadarkan diri hingga kemudian dibawa ke rumah saki

Penulis: galih permadi | Editor: Catur waskito Edy
Tribun Jateng/M Syofri Kurniawan
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi turut salat jenazah korban meninggal akibat bentrok di Kampung Kebonharjo. 

SEMARANG, TRIBUNJATENG.COM – “Kebonharjo siapa yang punya, Kebonharjo siapa yang punya, Kebonharjo siapa yang punya, yang punya kita semua."

Yel-yel ratusan warga Kebonharjo menggema di Jalan Ronggowarsito, Kota Semarang, Kamis (19/5) sekira pukul 08.00. Mereka beraksi menolak penertiban rumah yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) untuk pembangunan rel baru Stasiun Tawang-Pelabuhan Tanjung Emas.

Bentrok terjadi menyebabkan jatuhnya korban luka di pihak warga dan aparat keamanan. Seorang warga meninggal saat proses eksekusi berlangsung, sedangkan sedikitnya tujuh personil aparat mengalami luka akibat lemparan batu.

Korban meninggal adalah Jamian (60), warga Jalan Ronggowarsito RT 01 R W10, Kebonharjo yang mempunyai riwayat penyakit jantung.

Diduga jiwanya tertekan melihat rumahnya akan digusur, Jamian mendadak tak sadarkan diri hingga kemudian dibawa ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke rumah sakit inilah, Jamian mengembuskan nafas terakhirnya.

Warga sempat memblokade jalan untuk membendung tim eksekutor yang dibantu ribuan aparat gabungan dari kepolisian dan Polsuska (Polisi Khusus Kereta Api). Tiga unit eskavator dikerahkan.

Warga mengira tim eksekutor akan memasuki kampung Kebonharjo, Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara, melalui gang utama. Namun ternyata tim eksekutor mengambil jalan lain dengan membongkar tembok pembatas kampung.

Warga yang semula berada di Jalan Ronggowarsito lantas tunggang langgang berlarian menuju belakang kampung. Eskavator berhasil membongkar tembok. Warga kemudian mencoba mencegah tim eksekutor yang dibantu ribuan personel kepolisian membongkar rumah warga.

Namun apa daya, aksi warga menahan aparat tak berhasil lantaran kalah jumlah. Polisi dan petugas keamanan dari PT KAI terus merangsek. Dua unit eskavator pun dikerahkan merobohkan bangunan yang telah diberi tanda silang merah. Tak hanya eskavator, PT KAI menyiapkan tim penertiban untuk membongkar rumah menggunakan alat manual.

Tim eksekutor terus merangsek. Mereka tak memedulikan warga yang sedang menggelar doa di Masjid Baitul Mukminim. Polisi membubarkan pengajian dan doa bersama tersebut.

"Kami mengira petugas akan masuk lewat depan. Ternyata bongkar tembok belakang. Tadi pengajian langsung dibubarkan," kata Iwan, seorang warga Kebonharjo.

Iwan menyatakan PT KAI arogan dengan mengerahkan ribuan anggota kepolisian. Seharusnya bisa dilakukan dengan negosiasi dengan warga. "Kita ini manusia bukan hewan. Kasihan anak-anak yang sedang ujian jadi ketakutan," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved