Perlunya Pelajaran Deradekalisasi Diterapkan Sejak Dini

Ketua Fraksi FPKB DPRD Jateng, MH Wicaksono mengatakan, pihaknya akan mendorong agar materi khusus deradikalisasi ini

Penulis: m nur huda | Editor: Catur waskito Edy
Tribun Jateng/M Nur Huda
Seminar Diskursus Islam Nasionalisme dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, yang digelar Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPRD Jateng dan Ikatan Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, Senin (23/5/2016). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Sekretaris Komisi E DPRD Jateng, Hasan Asy'ari mengatakan perlu materi khusus deradikalisasi yang diajarkan mulai Pendidikan Usia Dini PAUD dan TK, Sekolah Dasar, Mengengah dan Perguruan Tinggi.

Hal itu diungkapkannya dalam seminar Diskursus Islam Nasionalisme dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, yang digelar Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPRD Jateng dan Ikatan Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, Senin (23/5/2016).

Dengan demikian, menurutnya melalui siaran pers yang diterima Tribun Jateng, Selasa (24/5/2016), generasi muda bisa lebih dini memahami apa yang dinamakan radikalisme.

"Sekarang ini perekrutan, ajakan dan kampanye radikalisme disebarkan melalui media sosial, setiap orang akan membaca. Ini berbahaya karena siapa saja bisa terpengaruh," ujar Hasan.

Ketua Fraksi FPKB DPRD Jateng, MH Wicaksono mengatakan, pihaknya akan mendorong agar materi khusus deradikalisasi ini bisa disampaikan sedini mungkin berdasar kemapuan jangkuan pemikiran peserta didik.

Dosen Fakultas Hukum Undip, yang juga Kasatkorwil Banser Ansor Nahdlatul Ulama Jateng, H Hasyim Asy'ari mengungkapkan, sekarang ada sekelompok yang mengusung isu Khilafah Islamiyah. Harusnya, hal yang paling utama bukan menegakkan khilafah tapi menegakkah salat.

"Jelas tak ada dalil yang mengatakan untuk menengakkan khilafah atau Syariat Islam. Kita harus banyak belajar dari negara-negara di jazirah Arab, kekuatan politik penegakkan khilafah Islamiyah menjadi sumber konflik yang berkepanjangan," katanya.

Menurutnya, Indonesia memang bukan negara Islam tapi nilai-nilai agama sudah dijadikan landasan dan spirit dalam berbangsa dan bernegara, sehingga masyarakatnya damai.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melalui Asisten Gubernur Bidang III Pemprov Jateng, Budi Waseso, saat membacakan Pidato Kunci Gubernur, menyatakan saat ini munculnya kelompok bergenre Muslim Transnasional mengancam NKRI.

Genre ini persatuan mutlak hanya bisa dibangun berdasar kesamaan akidah. Mereka ini adalah sekelompok muslim yang meletakkan agama di atas bangsa, dan setia mengampanyekan gagasan khilafah universal yang lintas negara.

"Bagi kelompok seperti itu, nasionalisme dianggap tidak penting bahkan tercela, karena dianggap produk barat dan hanya memecah belah umat Islam," katanya.(*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved