Tokoh Di Balik Peluncuran CD Keroncong Pariwisata Pesona Indonesia Tadi Malam
Tokoh Di Balik Peluncuran CD Keroncong Pariwisata Pesona Indonesia Tadi Malam
Penulis: galih priatmojo | Editor: iswidodo
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Galih Permadi
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Arief Yahya bersama Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi dan Ketua Himpunan Artis dan Musisi Keroncong RI (HAMKRI), Mayjen TNI Sunindyo meluncurkan CD "Keroncong Pariwisata Pesona Indonesia" di Plaza Barat Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (28/5) malam.
Setelah peluncuran digelar pertunjukan musik keroncong yang diramaikan oleh artis-artis
kroncong ternama seperti Mus Mulyadi, Mus Mujiono, Sundari Sukotjo, Endah Laras, Sruti Respati dan lainnya.
Selain itu juga ada Putri Ayu, Armand Maulana, Maria Calista, Intan Soekotjo, dan generasi muda lain yang memberi warna lain pada musik keroncong. Bertindak sebagai music director adalah Oeblet, Tabuhan Nusantara Ethnic Orchestra.
Pada kesempatan tersebut, Arief Yahya sempat bercerita jika akar keroncong berasal dari sejenis musik Portugis dikenal sebagai fado yang diperkenalkan oleh para pelaut dan budak kapal niaga bangsa itu sejak abad ke-16 ke Nusantara. Dari daratan India (Goa) masuklah musik ini pertama kali di Malaka dan kemudian dimainkan oleh para budak dari Maluku.
Melemahnya pengaruh Portugis pada abad ke-17 di Nusantara tidak dengan serta-merta berarti hilang pula musik ini. Bentuk awal musik ini disebut moresco (sebuah tarian asal Spanyol, seperti polka agak lamban ritmenya).
Salah satu lagu oleh Kusbini disusun kembali kini dikenal dengan nama Kr. Muritsku, yang diiringi oleh alat musik dawai. Dalam perkembangannya, masuk sejumlah unsur tradisional Nusantara, seperti
penggunaan seruling serta beberapa komponen gamelan.
Arief melanjutkan, jika di Jawa Tengah masih banyak group keroncong yang eksis dan secara periodik berlatih bersama dan manggung bersama. Tetapi dalam kehidupan riil, musik jenis ini memang tidak bisa bersaing dengan budaya pop dan rock yang semakin global dan inklusif.
"Karena itu menampilkan seni keroncong, dengan penyanyi modern, itu kombinasi yang seru," ujarnya dalam rilis yang diterima Tribun Jateng, Minggu (29/8).
Sementara itu, Hendi, sapaan akrab, Hendrar Prihadi, mengatakan jika memang di Kota Semarang musik keroncong masih terpelihara dengan berbagai inovasinya. "Di Semarang kami punya banyak grup musik keroncong yang masih eksis dengan menggabungkan keroncong dengan aliran musik lain seperti Rock misalnya, dan eksistensi tersebut akan terus kami dukung," ujarnya.
Hendi menambahkan Di Kota Semarang juga digelar festival musik Loenpia Jazz, dan perlu diketahui kalau tidak sedikit musisi keroncong yang ambil bagian dalam festival tahunan kami tersebut. "Hal-hal semacam itulah yang akan kami usakan untuk dapat menghidupkan musik keroncong
sehingga sejalan dengan Kementrian Pariwisata," ujarnya. (*)