Ramadan 2016

Tiap Dugderan Mau Ramadan di Kota Semarang Ada Warak Ngendok, Apa Sih Artinya?

Tiap Dugderan Mau Ramadan di Kota Semarang Ada Warak Ngendok, Apa Sih Artinya?

Tiap Dugderan Mau Ramadan di Kota Semarang Ada Warak Ngendok, Apa Sih Artinya?
tribunjateng/rahdyan trijoko pamungkas
Tiap Dugderan Mau Ramadan di Kota Semarang Ada Warak Ngendok, Apa Sih Artinya? 

Laporan Tribun Jateng Rahdyan Trijoko Pamungkas

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Warak Ngendok merupakan khas dalam karnaval Dugderan di kota Semarang. Wujud Warak Ngendok digambarkan berupa hewan berkepala naga.

Warak Ngendok tersebut tidak terlepas adanya manggar (pohon kelapa) yang berada di sampingnya. Warak Ngendok tersebut akan ditaruh pada bendi yang digunakan untuk karnaval.

Pengrajin Warak Ngendok, Robi Widodo terlihat sibuk dalam mempersiapkan manggar dan Warak Ngendok yang akan digunakan dalam karnaval. Ia dipercaya Pemerintah Kota Semarang untuk mengerjakan Warak Ngendok untuk memeriahkan karnaval Dugderan di Balai Kota Semarang.

"Saya dipercaya Pemkot sejak tahun 2009. Waktu itu saya pernah membuat Warak Ngendok dan Pemkot mempercayakan ke saya," ujarnya,Sabtu (4/6/2016).

Robi membuat Warak Ngendok sejumlah 25 unit yang dibantu empat karyawannya. Pembutan Warak Ngendok membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Pembuatan Warak Ngendok dikerjajkan di kediamannya di Jalan Tumpang 1 nomer 59 kelurahan Gajahmungkur Kecamatan Gajahmungkur.

"Tidak ada kesulitan dalam membuat Warak Ngendok karena sudah tahun komposisinya. Bahan yang digunakan sebagian adalah gabus dan kayu," kata dia.

Humas Takhmir Masjid Agung Semarang Mukhaimin menuturkan tradisi Warak Ngendok sudah ada sejak dulu. Warak Ngendok adalah hewan rekaan yang dibuat pada saat karnaval dugderan. "Warak Ngendok hanya dijual pada waktu Dugderan," sebutnya

Menurutnya masyarakat menyebut Warak Ngendok sebagai simbol persatuan. Menurut Mukhaimin, Warak Ngendok berasal dari bahasa Arab, waro'a yang berarti menjaga diri. Warak Ngendok digambarkan sebagai hewan rekaan. "Warak Ngendok artinya setiap orang yang mau menghadapi puasa harus menjaga diri dari godaan hawa nafsu," tuturnya.

Ia menyebutkan nafsu tersebut digambarkan seperti kepala Warak Ngendok dengan mulut terbuka. Mengendalkan nafsu butuh perjuangan dengan digambarkan kaki dan buntut Warak Ngendok berdiri. Bulu dari Warak Ngendok juga berbalik. "Artinya yang awalnya marah jadi sabar. Hal-hal itu yang dijaga dalam berpuasa," tuturnya.

Mukhaimin menuturkan setelah mengendalikan diri maka akan timbul ngendok atau ada embrio baru yang artinya sebuah kemanfaatan untuk lingkungan dan diri sendiri. Lahirnya embrio tersebut diartikan dengan ngendok - bertelur atau lahir. "Anak kalau tahu ada Warak Ngendok diartikan mau puasa. Arti Warak Ngendok sendiri adalah nenahan diri," ungkapnya. (*)

Penulis: rahdyan trijoko pamungkas
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved