Yusuf Panitia Seleksi Pendamping Desa Ngaku Stres Terima Komplain Banyak Orang
Yusuf Panitia Seleksi Pendamping Desa Ngaku Stres Terima Komplain Banyak Orang
TRIBUNJATENG.COM - Koordinator Tim Seleksi Pendamping Desa Jateng dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Yusuf Subagya, mengaku stres akibat adanya kesalahpahaman mengenai pengurangan nilai pada para peserta seleksi pendamping desa. "Saya itu jujur sampai stres kemarin dimarahi banyak orang, bahkan ada yang akan melaporkan saya ke polisi," kata Yusuf kepada Tribun Jateng, Jumat (3/6).
Padahal, kata Yusuf, sebenarnya setiap peserta sudah diberikan informasi secara lengkap mengenai proses pengurangan nilai hasil seleksi tertulis ketika menerima hasil nilainya masing-masing. "Padahal sudah saya jelaskan. Tapi ya begitulah, masyarakat ya begitu saya memaklumi," ujarnya.
Di Jawa Tengah, kata Yusuf, terdapat 7.650 pendaftar dalam rekrutmen pendamping desa. Sementara dari hasil tes tertulis hanya 1.020 pendaftar yang lulus. Jumlah tersebut dipastikan akan berkurang karena pada Sabtu (4/6) hari ini akan dilakukan ujian psikotes selama tiga jam di Purwokerto.
"Jadi dari jumlah (1.020 pendaftar yang lulus tes tertulis--Red) yang ikut psikotes besok, pun belum tentu semua lolos," ujarnya.
Sebelumnya, ia juga menjelaskan, pengurangan nilai hasil tes tertulis pada calon pendamping desa di Purwokerto, 28 Mei 2016 lalu, semata karena kesalahpahaman. "Di juknis (petunjuk teknis) Kemendesa ditulis 30 atau dalam kurung 60 persen. Kami karena dari kalangan akademisi mengartikan 30 ya dikalikan dua, jadinya 60. Oleh karena nilai di perguruan tinggi kan kalau nilai 60 berarti lulus, makanya skor 30 kami transfer menjadi 60. Jadi siapa pun yang dapat nilai 60 lolos," jelas Yusuf.
Setelah data diserahkan ke Kemendesa, lanjut Yusuf, ternyata dari [rovinsi lain hasil nilainya tidak dikalikan dua. Setelah ada keributan, akhirnya dari Kemendesa meminta agar nilai dikembalikan sesuai hasil semula. "Nilainya dikembalikan jadi 30 supaya sama dengan provinsi lain. Jadi sama saja tidak ada pengurangan nilai dan sebagainya. Jadi sebenarnya kami tidak mengubah hasil apa pun," jelasnya.
Libatkan PTN
Dalam kesempatan terpisah, sebelumnya Direktur Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Desa (PDTT), Taufiq Madjid mengatakan, seleksi pendamping desa tahun ini memang berbeda dengan pola perekrutan tahun lalu. Pihaknya melibatkan perguruan tinggi dalam proses penyeleksian untuk menjaga akuntabilitas proses perekrutan tersebut.
"Baik sebagai supporting system maupun pelaksana, kami bekerja sama dengan perguruan tinggi. Pemerintah Pusat hanya penyelenggara, terkait pelaksana sepenuhnya diserahkan kepada tim seleksi," kata dia.
Taufik menjelaskan, dalam rekrutmen yang digelar secara terbuka tersebut, Kementerian Desa bekerja sama dengan 33 perguruan tinggi negeri (PTN) yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Dalam perekrutan tersebut, Taufik menjamin, tidak adanya intervensi pemerintah, terutama Kementerian Desa terkait proses hingga hasil seleksi. Pasalnya, proses seleksi telah telah sepenuhnya diserahkan kepada tim seleksi.
Jumlah pendamping desa yang akan direkrut dalam seleksi kali ini berjumlah 19.096 orang, yang terdiri dari tenaga ahli pendamping masyarakat, pendamping desa, dan pendamping lokal desa. (tribunjateng/had/Tribunnews)
19.096 PENDAMPING DESA
Total pendamping desa: 40.000 orang
Perekrutan tahap I: 21.049 orang
Perekrutan tahap II (saat ini berlangsung): 19.096 orang
- Tenaga Ahli Pendamping Masyarakat (TAPM) 1.600 orang
TAPM ditempatkan di kabupaten/kota
- Pendamping Desa (PD) 10.893 orang
PD ditempatkan di kecamatan dengan jumlah yang disesuaikan jumlah desa
- Pendamping Lokal Desa (PLD) 6.603 orang
Satu PLD bertanggung jawab pada empat desa
Jumlah pendamping desa saat ini: 30.589 orang
Hasil perekrutan tahun 2015: 21.049 orang
Eks-PNPM (bertugas hingga 31 Mei 2015): 9.540 orang
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-job-fair_20160604_111957.jpg)