Kapolres Pati: Batal Puasa Saya Jika Penangkapan Dua Warga Srikaton Ada Tendensi

Kapolres Pati: Batal Puasa Saya Jika Penangkapan Dua Warga Srikaton Ada Tendensi

Kapolres Pati: Batal Puasa Saya Jika Penangkapan Dua Warga Srikaton Ada Tendensi
tribunjateng/dok
ilustrasi bibit padi 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Mamdukh Adi Priyanto

TRIBUNJATENG.COM, PATI- Beberapa waktu lalu, ratusan warga Srikaton, Kecamatan Kayen, Pati berbondong-bondong menginjak-injak bibit tanaman padi yang baru saja ditanam. Tanaman padi yang digarap di atas lahan bengkok desa itu rusak parah.

Aksi tersebut merupakan representasi warga yang marah besar ketika mengetahui tanah bengkok milik perangkat desa ditanami padi. Pasalnya, tanah itu dianggap bermasalah karena warga tidak mengakui perangkat desa yang diangkat pada masa pemerintahan mantan kades Ali Sasmito 2014 lalu.

Kepala Desa Srikaton yang saat ini menjabat, Sarjono mengatakan, aksi itu merupakan rentetan dari buntut tidak terimanya warga atas pengangkatan perangkat desa yang dinilai tidak sah. Aksi tersebut menjadi puncak kemarahan warga.

"Masalah ini memang mulai bergejolak dari awal, sejak proses penjaringan perangkat desa yang dinilai warga bermasalah," kata Sarjono.

Sarjono pun menuding aparat kepolisian bahwa ada permainan di belakang terkait kasus tersebut. Ia mempertanyakan kenapa polisi hanya menetapkan sembilan tersangka dan dua warga diantaranya telah dilakukan penangkapan, padahal yang melakukan pengrusakan padi itu semua warga.

"Kami menduga ada permainan antara pihak kepolisian dengan oknum anggota DPRD Pati. Karena kakak perangkat Desa Srikaton merupakan anggota dewan," ujarnya.

Sementara, Kapolres Pati, AKBP Ari Wibowo menampik tuduhan tersebut. Ia menegaskan tidak ada kongkalikong ataupun persekongkolan terhadap penahanan dua warga Srikaton. "Ini puasa, batal puasa saya jika memang ada tendensi dari pihak luar atas penahanan dua warga tersebut," kata AKBP Ari Wibowo.

Menurutnya, penahanan dua warga Srikaton tersebut sudah sesuai prosedur dan untuk keperluan penyidikan. Saksi pun bisa jadi tersangka bila menghalang-halangi proses penyidikan. "Tudingan tersebut tidak dibenarkan, lantaran penangkapan dan penahanan sudah melalui mekanisme dan prosedur hukum yang berlaku," ucapnya.

Pihaknya, lanjut dia, tidak membeda-bedakan warga. Setiap ada yang melapor, akan tindaklanjuti.
Padahal, lanjut dia, pihaknya sudah mengirimkan surat pemanggilan pemeriksaan terhadap dua warga tersebut. Namun keduanya tidak pernah menanggapinya. Penahanan dilakukan bagi warga yang tidak kooperatif saat penyidikan. Karena itu, ia berharap agar warga bisa menghargai proses hukum yang sedang berjalan. (*)

Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved