Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Hikmah Ramadhan

Memandang Diri Suci

DALAM Alquran (53:32) terdapat kata sindiran atau peringatan yang pantas sekali kita renungkan, yaitu fala tuzakku anfusakum.

BBC Indonesia
Ilustrasi 

DALAM Alquran (53:32) terdapat kata sindiran atau peringatan yang pantas sekali kita renungkan, yaitu fala tuzakku anfusakum. Janganlah kamu memandang suci atas dirimu.

Dalam ungkapan Jawa, jangan sok semuci. Ini penyakit hati yang serius yang masuk secara diam-diam dan mudah lepas kontrol. Bahwa seseorang merasa dirinya bersih, suci dan lebih baik dari yang lain.

Penyakit ini mudah menjangkiti orang yang merasa sudah banyak ibadahnya, banyak amalnya, padahal tak ada jaminan dan tak ada yang tahu apakah amalnya itu benar-benar ikhlas karena Allah atau ada motif lain yang menyelinap secara lembut sehingga merusak iman dan ibadah kita.

Terjemahan bebas dari ayat tersebut adalah: Mereka menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Sungguh Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dia mengetahui tentang dirimu, sejak kamu dicipta dari tanah, lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui siapa orang-orang yang bertakwa.

Ayat di atas menegaskan Allah lah yang menciptakan kita, dan mengetahui semua prosesnya sejak awal mula tercipta dari tanah, jadi janin, bahkan juga sampai kematian kita. Tak ada perbuatan sekecil apapun yang luput dari pengetahuan-Nya sepanjang hidup kita.

Jauh sebelum manusia menemukan teknologi CCTV, Alquran sudah mengenalkan sistem pengawasan ilahi yang bernama malaikat, yang merekam semua perbuatan manusia dan tak ada yang tersisa, tak ada yang terhapus.

Tak ada manusia yang mampu membebaskan diri dari berbuat kesalahan dan dosa. Hanya tingkatan, volume, dan frekuensinya yang berbeda. Ada yang melakukan dosa besar, ada yang kecil, ada yang terang-terangan terlihat orang lain, ada yang sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui orang lain.

Bagi Allah, semuanya terlihat jelas. Yang baik di antara mereka adalah yang segera bertaubat, tidak mengulangi lagi setelah berbuat dosa. Lalu berusaha menjauhi hal-hal yang mendekatkan pada pintu dosa dan keji agar tidak terulang.

Namun tidak mungkin manusia itu bisa menjaga dirinya putih bersih dari dosa dan kesalahan, sehingga Allah menghibur, jangan putus asa dari rahmat-Nya karena Dia maha luas ampunan-Nya. Oleh karenanya janganlah kita sok suci semuci. Merasa dan memandang dirinya suci. Ibarat mobil yang sudah dicuci, begitu keluar garasi lalu masuk jalan raya pasti ada saja kotoran yang menempel.

Keyakinan dan kepastian

Para Rasul pilihan dan utusan Tuhan saja senantiasa berdoa mohon perlindungan dan minta ampun atas dosa-dosanya. Terlebih kita manusia biasa. Istri dan sahabat Rasulullah Muhammad suatu hari bertanya campur heran mengapa setiap malam bangun shalat malam sampai dengkulnya lecet.

Nabi menjawab, saya ingin sekali menjadi hamba yang pandai mensyukuri atas semua hidayah dan anugerah Allah yang dilimpahkan pada saya. Demikianlah, jangan lupa dalam setiap shalat itu terdapat bacaan wajib: Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri kenikmatan hidup. Hindarkanlah kami dari jalannya orang-orang yang sesat dan Engkau murkai.
Jadi, dengan shalat kita selalu memperkuat komitmen untuk menempuh jalan yang yang lurus, benar, dan bersikap rendah. Inipun dilakukan Rasulullah. (*)

Prof Dr Komaruddin Hidayat
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved