Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Forum Mahasiswa

Demonstrasi Tanpa Rusuh

SEBULAN yang lalu tepatnya Kamis (26/5),lapangan Rektorat Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang biasanya didominasi warna hijau, tiba-tiba mengunin

kompas.com
Ribuan mahasiswa saat mengelar aksi di Balairung UGM 

SEBULAN yang lalu tepatnya Kamis (26/5),lapangan Rektorat Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang biasanya didominasi warna hijau, tiba-tiba menguning.

Sebab, ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Unnes Bersatu telah membanjiri lapangan tersebut, lengkap dengan jas almamater mereka. Para demonstran ini mengepalkan tangan, bersorak penuh semangat, dan terus mendesak maju mendekati Rektorat sembari menunjukkan spanduk-spanduk bertema penolakan pada komersialisasi pendidikan.

Mereka mengecam pemberlakuan rencana Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) untuk mahasiswa baru Unnes jalur ujian mandiri dan menuntut agar rancangan aturan tersebut dihapuskan.

Kisah diatas merupakan salah satu contoh demonstrasi ala mahasiswa. Sepertinya, memang tak jauh berbeda dengan aksi atau unjuk rasa pada umumnya, tetapi bila diperhatikan dengan seksama, ternyata ada yang berbeda dari demonstrasi kali ini.

Ketika tuntutan para demonstran telah dikabulkan oleh pihak birokrat, demonstrasi mencapai fase anti-klimaks. Saya memperhatikan para demonstran dengan teratur mulai membubarkan diri. Tetapi seketika saya terkejut, ketika melihat beberapa mahasiswa justru tak meninggalkan tempat. Bersenjatakan karung bekas, mereka mulai memunguti sampah yang berserakan di lapangan selepas demonstrasi usai.

“Wah, inilah pahlawan sebenarnya pada aksi kali ini,” begitu pikir saya.

Bayangkan saja, di tengah panggung demonstrasi, pemuda yang identik dengan teriakan keras dan irama penuh kebebasan, mereka tetap tak mengabaikan lingkungan. Secara tidak langsung, para mahasiswa didikan Universitas Konservasi ini ternyata, bisa dikatakan, berhasil menerapkan pelestarian alam dan penjagaan budaya luhur seperti yang diajarkan kampus mereka. Selamat untuk Unnes.

Melawan Stereotip

Seperti halnya para pahlawan di film fiksi ilmiah, setiap pahlawan tak bisa lepas dari peran pahlawan lain. Batman membutuhkan Alfred untuk membuatkannya kostum, James Bond mungkin juga tak akan sehebat itu tanpa peralatan dari Q. Mereka inilah pahlawan di belakang layar bagi para pahlawan super tadi.

Sama halnya demonstran Unnes yang bisa disebut sebagai pahlawan pembela keadilan. Aksi mereka tidak akan sempurna bila mereka rusuh, cenderung destruktif, apalagi meninggalkan banyak sampah. Mereka butuh pahlawan, yakni para mahasiswa pengatur dan penjaga kebersihan agar demonstrasi berjalan sempurna.

Alhasil, menurut hemat saya ini bagus sebagai contoh untuk membangun anggapan: ternyata unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa juga bisa berjalan damai dan tertib. Sebab, tak jarang orang yang masih berprasangka negatif bila melihat mahasiswa berunjuk rasa. Beberapa menilai, mahasiswa punya kecenderungan anarkis, rusuh, destruktif, atau ngawur, merusak kepentingan umum, dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, semoga calon aktivis mahasiswa di masa depan memahami, cara menjadi pahlawan bukan dengan melempari batu pada polisi, membakar ban, ataupun mencorat-coret fasilitas umum. Bersuaralah dengan wibawa. Mahasiswa itu agen perubahan, bukan agen perusakan.

Aziz Rahardyan

Mahasiswa Unnes

Pegiat Pers Mahasiswa

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved