Hikmah Ramadhan

Intropeksilah Apakah Anda Termasuk Memakan Bangkai Teman

TERDAPAT peringatan di Alquran yang sangat keras bagi orang beriman agar menjauhi sikap prasangka buruk dan berbuat ghibah

Intropeksilah Apakah Anda Termasuk Memakan Bangkai Teman
KOMPAS.com/IWAN BAHAGIA
Seekor gajah ditemukan mati di Dusun Paya Lah, Kampung Karang Ampar, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh. Gajah jantan ini diduga mati karena meneguk cairan penyemprot rumput yang mengandung zat berbahaya dirumah seorang warga yang ditinggal penghuninya. Warga menemukan bangkai tersebut, Kamis (18/2/2016). 

TERDAPAT peringatan di Alquran yang sangat keras bagi orang beriman agar menjauhi sikap prasangka buruk dan berbuat ghibah, yaitu membicarakan kejelekan teman sendiri dari belakang. Coba simak surat 49: 12. Wahai orang-orang yang beriman!

Jauhilah sikap suka berprasangka karena sebagian prasangka itu tidak selalu benar dan medatangkan dosa. Jangan pula kamu mencari-cari kesalahan orang lain serta saling menggunjingkan teman, membicarakan hal-hal yang kamu pandang buruk di saat temanmu tidak di tempat.

Yang demikian itu, bukankah sama halnya kamu menikmati bangkai temanmu, yang tentu saja menjijikkan? Di sini Alquran menggunakan ungkapan sangat keras. Mencari-cari kesalahan teman lalu dijadikan bahan gunjingan itu tak ubahnya makan bangkai temannya.

Mengapa? Karena ketika bergunjing itu mungkin sekali merasa enak dan asyik layaknya orang lapar memperoleh makanan untuk disantap. Lalu, mengapa bangkai? Karena mungkin sekali apa yang digunjingkan itu tidak benar, mengandung fitnah, sementara orang yang dijadikan sasaran tidak bisa membela diri karena tidak berada di tempat, sehingga tak berdaya bagaikan mayat atau bangkai.

Kalau saja yang berbuat ghibah sadar pasti merasa jijik karena yang tengah dinikmati itu oleh Alquran diidentikkan dengan bangkai. Berprasangka buruk (suuzon) adalah pangkal fitnah.

Orang membangun cerita negatif tentang orang lain, padahal itu hanya imajinasi yang muncul dari rasa iri dan dengki. Jika cerita itu sampai ke orang lain atau yang bersangkutan, sangat mungkin akan berkembang lebih jauh lagi menjadi kebencian, permusuhan, dan perkelahian.

Akibat yang ditimbulkan dari fitnah skalanya bisa lebih besar dan lebih berbahaya dari pembunuhan. Fitnah ini mudah sekali menyelinap melalui jargon dan mekanisme demokrasi, misalnya saja di saat menjelang pilkada atau pemilu.

Antar calon dan pendukungnya tidak segan-segan mengintip, mencari-cari dan mengorek kekurangan lawan. Jika ditemukan, kekurangan yang lalu dibesar-besarkan. Hal-hal yang sifatnya pribadi lalu dibuka secara terbuka ke publik.

Yang lebih bahaya lagi, jika ternyata tidak ditemukan kesalahan, maka diciptakan berita bohong untuk menjatuhkannya. Makanya dalam masyarakat muncul kesan kuat, politik itu kotor, penuh kebohongan, dan saling membunuh lawannya. Kata politik dan demokrasi yang pada dasarnya bagus serta mulia, lalu ternodai menjadi kotor.

Munculnya teknologi komunikasi yang semakin canggih seperti handphone, masyarakat begitu cepat menyebarkan berita gosip dan fitnah. Hanya dengan copy paste (copas) sebuah berita yang kadang bernada fitnah menyudutkan seseorang atau kelompok, bisa tersebar hanya dalam hitungan menit, menyebar ke ratusan ribu orang.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved