Smart Women

Desainer Sekaligus Pemilik Sarmanraa Ramaikan Industri Busana Muslim Nasional

Desainer Sekaligus Pemilik Sarmanraa Ramaikan Industri Busana Muslim Nasional

tribunjateng/hermawan handaka
Lakshiputri Arnindita desainer 

TRIBUNJATENG.COM - Industri busana muslim yang terus berkembang melahirkan talenta-talenta baru dibidang perancangan, tak terkecuali di Semarang. Lakshiputri Arnindita satu di antara yang terjun meramaikan dunia fashion muslim.

Tak memiliki basic pendidikan mode atau perancangan busana tak membuat wanita yang akrab disapa Dita ini gentar menghadapi tantangan. Dia merasakan, panggilan jiwa atau passion besar di bidang tersebut.

Persinggungannya dengan dunia busana muslim sudah berlangsung sejak 2011 silam. Lulusan Komunikasi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini mengakui, minat terjun di bisnis busana muslim tak lepas dari kebiasaan mengenakan jilbab sejak 2009. Apalagi, saat itu, tak banyak desain atau kreasi busana muslim modern yanga berkembang seperti saat ini.

"Dulu kan berjilbab masih dianggap beda. Selain itu, kakak sepupu saya ada yang menemukan produk busana muslim berkualitas rendah. Kakak sepupu saya itu punya kulit sensitif. Dari situ, kami berinisiatif membuka usaha busana muslim yang memiliki kreasi dan berkualitas," ujarnya.

Pada 2001, usaha yang dirintis akhirnya dibuka. Mereka mengusung nama Sarmanraa yanga berarti keindahan bagi yang melihat. Gerai tersebut dibuka di Mal Kelapa Gading, Jakarta. Dita dan sang kakak juga memasarkan secaraonline.

Awalnya, produk busana yang dihasilkan masih dikerjakan pihak ketiga. Kini, semua produksi mampu dikerjakan, mulai mendesain, memilih bahan sampai eksekusi menjahit. "Kami bisa produksi secara mandiri dan membeli mesin konveksi karena saat itu ada perusahaan konveksi yang tutup. Nah,ada mesin bekas yang bisa kami pakai," ungkap wanita kelahiran 28 April 1983 ini.

Sempat vakum setahun, Dita membuka lagi gerai Sarmanraa. Kali ini di Semarang, sekaligus mengikuti keluarga yang juga hijrah ke Kota Lunpia. Sarmanraa reborn di Semarang pada 2015.

Dita mengungkapkan, mayoritas busana muslim yang disediakan Sarmanraa hasil kreasi sendiri. Untuk pemilihan bahan, dia menyerahkan pada sang kakak sedangkan urusan desain, dia yang mengerjakan.
Baginya, yang menjadi tantangan sebagai seorang desainer adalah menerjemahkan ide atau konsep yang ada menjadi busana jadi. Selain itu, inovasi. Apalagi, saat ini, industri busana muslim berkembang pesat dalam ragam maupun pilihan. "Menerjemahkan konsep yang sudah saya desain ke penjahit itu kadang tak selalu pas, butuh kesabaran dan jeli. Sementara, untuk ide fresh, saya biasa jalan-jalan untuk mendapatkan," ungkapnya.

Melihat perkembangan yang ada saat ini, Dita menyebut, pemakaian busana muslim sudah mengalami pergeseran. Jika dulu busana muslim identik dengan pribadi yang alim dan tak banyak yang bersedia memakai, kini hampir menjadi busana sehari-hari muslimah. Memakai busana muslim sudah menjadi bagian dari lifestyle.

Untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang besar terhadap busana muslim, Dita lebih banyak menyodorkan potongan simple dan fleksibel yang mendapat sentuhan modern. "Seri Virtu merupakan satu produk kami yang punya model simple,modern dan berkualitas. Bahan yang digunakan sesuai kondisi tropis Semarang dan sekitarnya. Kebetulan, ini juga jadi produk unggulan kami. Ada 12 seri untuk model Virtu, yang pas sebagai busana sehari-hari ataupun acara resmi," terangnya.

Dita berharap, upaya pemerintah mengarahkan Indonesia sebagai kiblat busana muslim dunia dapat memajukan produk busana muslim lokal. Bahkan, bisa bersaing di kancah internasional. "Tentu, ini hal positif ketika Indonesia bisa jadi kiblat busana muslim dunia, seperti halnya Paris. Semoga kondisi ini bisa mendorong produk dan desainer lokal. Brand lokal bisa mendunia seperti Louis Vuitton ataupun Gucci," tandasnya. (tribunjateng/gon)

Penulis: galih priatmojo
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved