Ngopi Pagi
Bangor, Banger, dan Bageur
Banjir rob bukan banjir biasa. Bencana akibat laut pasang ini sulit diprediksi kapan surutnya
Penulis: sujarwo | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG.com-- Banjir rob bukan banjir biasa. Bencana akibat laut pasang ini sulit diprediksi kapan surutnya. Bikin warga di wilayah banjir rob ngomel-ngomel, terus mengeluh. Maklum, selain bikin banyak nyamuk, airnya ibarat orang bandel, atau bangor dalam bahasa Sunda.
Saat ini, khususnya di Jawa Tengah, banjir rob menggenangi jalan utama Pantai Utara Semarang, terutama di wilayah Kaligawe sampai Genuk. Sejumlah pemukiman warga juga tergenang air pasang. Bahkan, air rob juga menyembul dari dalam tanah. Begitu pula di Kabupaten Pekalongan, banjir rob berlangsung sejak 27 Mei 2016 hingga sekarang.
Bagi warga yang tak mengalaminya sehari-hari, atau sedikit merasakan karena kebetulan melewati jalan tergenang rob, kurang ’ menghayati’ bau airnya. Namanya juga air dari laut, baunya amis. Barangkali itu pula lahir kata banger dalam bahasa Jawa Semarangan, yang berarti bau nggak sedap. Dari sini, kali banger berarti sungai kecil yang airnya hitam dan bau banget.
Contoh lainnya Banyu Banger. Adalah tempat pemandian yang airnya mengandung belerang, tepatnya di Jalan Diponegoro, Kampung Damaran, Banyuanyar, Kecamatan Sampang Kabupaten Sampang. Disebut banyu banger karena airnya berbau tak enak.
Lain cerita banger dalam sejarah Probolinggo, Jawa Timur. Merupakan nama sungai utama di wilayah itu yang memiliki peran penting dalam bidang perdagangan. Kapal-kapal pedagang China bisa masuk hingga ke tengah kota. Kali Banger menjadi jalur strategis. sejak tahun 1770 hingga akhirnya nama wilayah Banger berubah nama dan diganti dengan Probolinggo.
Ada lagi istilah Polder Banger. Ini yang ditunggu hasilnya oleh semua pihak. Polder Banger merupakan sistem penanganan banjir dan rob. Proyek diinisiasi Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi ini, salah satu proyek yang menjadi kiblat percontohan oleh 95 negara. Polder Banger pula menjadi bagian alasan Semarang dinobatkan sebagai salah satu kota tangguh dunia dalam program 100 Resilient Cities yang dipelopori oleh Rockefeller Foundation, New York, AS.
Pemerintah Belanda pun menaruh perhatian khusus. Beberapa perwakilan negara yang sukses menangani banjir rob dengan sistem polder itu sengaja ke Semarang pada April 2016 lalu untuk melihat lebih dekat proyek anti banjir rob tersebut. Mereka adalah Wakil Wali Kota Assen Belanda, Roy Kraft Van Ermel dan Project Coordinator Dewan Air Belanda, Mr Helmer.
Mengutip literatur, sistem polder adalah suatu cara penanganan banjir dengan bangunan fisik, yang meliputi sistem drainase, kolam retensi, tanggul yang mengelilingi kawasan, serta pompa dan/pintu air, sebagai satu kesatuan pengelolaan tata air tak terpisahkan.
Untuk Semarang, Polder Banger akan menggunakan sistem polder penanggulangan banjir dan rob yang mirip seperti diterapkan di Belanda. Hendi mengatakan jika kawasan sekitar Polder Banger terbebas dari rob dan banjir, pihaknya akan melakukan perbaikan infrastruktur.
Keberhasilan Polder Banger memang butuh dukungan semua pihak, tak terkecuali warga di daerah langganan banjir rob. Seperti kata Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat blusukan ke beberapa lokasi titik banjir rob, Sabtu (25/6/2016). Ganjar meminta masyarakat yang berada di sekitar area rob wilayah Kaligawe, untuk bersedia bekerja sama mengatasi persoalan itu demi kepentingan umum.
Permintaan itu dilontarkan Ganjar, karena ada pintu air di wilayah tersebut yang sebenarnya bisa difungsikan untuk aliran pembuangan air, namun ditutup oleh warga. Penutupan pintu karena masyarakat tak ingin wilayahnya tergenang air pasang. Jadi, penuntasan masalah banjir rob, dengan sistem apapun, termasuk Polder Banger, memang butuh apa yang orang Sunda bilang “bageur”, yang dalam bahasa Indonesia berarti baik hati. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/begini-kondisi-banjir-rob-di-tambakrejo-meski-tidak-diguyur-hujan_20160608_220440.jpg)