Breaking News:

Detik-detik Penodongan, Penjarahan dan Penyanderaan ABK Kapal Indonesia di Filipina

Detik-detik Penodongan, Penjarahan dan Penyanderaan ABK Kapal Indonesia di Filipina

Editor: iswidodo
kompas.com
Danlanal Balikpapan Letkol Laut (P) Luhut Siagian dan Andi Wahyu, ABK tugboat Charles 001, saat memberi keterangan 

TRIBUNJATENG.COM - Kelompok bersenjata membajak tugboat Charles 001 berbendera Indonesia pada 20 Juni 2016 lalu. Aksi ini disertai penjarahan dan penculikan yang berlangsung dua kali oleh kelompok berbeda pada hari yang sama. Tujuh dari 13 ABK diculik.

Lepas dari pembajakan, mereka ditemukan KRI Multatuli di sekitaran perairan Tarakan, dua hari kemudian. Tugboat lantas digiring pulang oleh KRI Sidat dan KRI Kerapu ke bekas pelabuhan peti kemas di Pelabuhan Semayang, Balikpapan dan tiba pada 25 Juni 2016. Enam ABK yang selamat kemudian diperiksa TNI AL di Balikpapan.

Andi Wahyu, 21 tahun, sang mualim tugboat Charles 001 yang baru satu bulan bekerja di Perusahaan Pelayaran Rusianto Bersaudara ini, menceritakan detik-detik dua kali pembajakan disertai penyanderaan ini:

Saya perwira baru yang perdana lewat ke sana. Saya baru pertama kali lewat situ. Jalur itu adalah keputusan nahkoda. Saya melihat dari anjungan kapal ada dua perahu cepat datang dari arah Pulau Jolo. Saya semula mengira itu adalah perahu ikan karena arahnya ke pemukiman di daratan seberang. Tapi, rupanya mereka terus mengikuti kami. Mereka mengikuti bahkan di lambung kanan dan kiri. Saat itu, mereka langsung menodongkan senjata ke anjungan.

Kemudian, masuklah mereka ke kapal. Mereka menyuruh kami turun ke buritan dengan sikap menyerah. Beberapa penodong berada di buritan sambil menodong ke kami. Beberapa yang lain naik ke anjungan, menjarah apa saja, termasuk barang officer. Di anjungan, mereka juga menjarah alat navigasi.

Kami kemudian dipilih. Mereka sebenarnya mencari Kepala Kamar Mesin. Tapi mereka mengatakan, mana masinis mana masinis. Angkat tanganlah Edi (Edi Suryono, 27 tahun, seorang masinis 2). Tapi yang mereka cari sebenarnya KKM. Tahunya mereka KKM itu adalah masinis.

Maka diambilah Edi. Tangannya diikat. Ditanyai, apa kamu masinis. Edi menjawab, saya enginer. Mereka kemudian mencari lagi masinis yang memimpin kamar mesin. Bahasa mereka dimengerti karena menggunakan bahasa melayu.

Edi menunjuk KKM (M Mahbrur Dahri, 27 tahun). Mereka kemudian mengambil master (nahkoda bernama Ferry Arifin), KKM, dan masinis 2 itu. Mereka pergi kemudian menjauh dari daratan.

Setelah dilepas, 15 menit kemudian, perompak kedua datang. Mereka membawa senjata lebih lengkap lagi, memakai baju dan celana loreng-loreng dan menggunakan pakaian anti peluru. Ada di antara mereka yang menutupi muka, sementara yang lain tidak.

Mereka langsung mengarah ke kapal kami. Saat itu, di anjungan sedang ada empat orang. Saya sendiri, ada juga Robin Piter sebagai juru mudi, Reidgard Frederic Lahiwu yang juga juru mudi. Chief officer, Ismail.

Kami melihat ada kapal mengarah ke kami. Kami lantas mencoba melarikan diri. Chief officer teriakkan lepaskan tali tongkang, biar laju kapal lebih cepat. Maka kami lepaskan. Tapi speed boat mereka lebih cepat dan kami bisa didapat. Mereka langsung merapat ke arah kami. Mereka langsung memilih dan mencari master.

Yang ini ternyata beda kelompoknya. Tak ada koordinasi dengan kelompok tadi. Mereka mencari master, tapi saya katakan: sudah disandera teman kamu yang pertama. Kata mereka, siapa yang mendahului kita. Karena tak ada master, mereka menahan chief officer, masinis 3, juru mudi, dan oiler. (kompas.com/Kontributor Balikpapan, Dani Julius Zebua)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved