VIDEO Ketelatenan Ustaz Pesantren Ini Ajari Anak-anak Autis Mengaji dan Hafalan

VIDEO Ketelatenan Ustaz Pesantren Ini Ajari Anak-anak Autis Mengaji dan Hafalan

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS- Mendidik dan mengajari anak-anak mengaji seperti mamahat dalam batu yang akan terpatri selamanya. Sedangkan mengajari orangtua mengaji seperti melukis pada air yang gampang pudar.

Bagaimana dengan mengajari dan mendidik anak-anak autis mengaji maupun hafalan? Tentu dibutuhkan sikap ekstra sabar dan super telaten. Itulah yang dilakukan Pondok Pesantren Al-Achsaniyah, di Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus yang khusus menerima santri anak-anak penderita autisme.

Pengasuh Ponpes Al-Achsaniyah, KH. Moh Faiq Afthony, mengatakan ponpes yang mulai didirikannya pada 2007 itu memang khusus menangani anak-anak autis dan berkebutuhan khusus. Menurut dia, saat ini santri di tempatnya sekitar 80 orang, mulai dari usia lima tahun, hingga paling tua berusia 41 tahun.
"Daya tampung di sini, sementara ini maksimal hanya 90 santri, dengan tenaga pengajar sekitar 55 orang," ucapnya.

VIDEO SUASANA PESANTREN AUTIS

Di pesantren ini anak anak autis diajari membaca Alquran dan menghafal asmaul husna. "Barusan belajar mengaji. Saya sudah hafal surat An-Nas dan juga Asmaul Husna," kata Dino, kemarin. Sudah lebih dari setahu belakangan ini, ia tinggal di sana. "Selain belajar ngaji, di sini senang, banyak temannya. Ada yang dari Jakarta, Lampung, Brebes, Surabaya, dan banyak kota lainnya," tutur dia.

Disampaikan, saat mula datang, rata-rata perilaku para santri tak terkontrol, sulit diajak komunikasi. Bahkan, seringkali tak bisa dikendalikan.

"Saat pertama datang, kita terapkan sistem one on one, satu guru untuk satu santri. Di mana ini adalah masa observasi, untuk melihat bakat dan minat, serta karakter santri. Masa observasi, ada yang hanya cukup minggu, bisa juga hingga enam bulan. Rata-rata, sebulan di sini mereka sudah bisa mengikuti instruksi," tutur alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, ini.

Ditandaskan, para santri di sini dididik untuk mengembangkan bakat dan minat mereka. Sementara, pendidikan akademik adalah hal nomor sekian. "Kami mengupayakan, agar anak-anak ke depan bisa mandiri, dan berkembang sesuai minat dan bakat yang dimiliki," ucapnya.

Selain itu, pihaknya juga menerapkan diet makanan ketat terhadap para santri. Diterangkan, anak-anak autis mempunyai kekhususan dibanding anak pada umumnya, pun dalam sistem pencernaan mereka.
Menurut dia, perilaku tak terkontrol anak autis cenderung disebabkan oleh asupan makanan yang tak sesuai.

"Di sini, anak-anak dilarang minum susu, mi instan, ciki-cikian, makanan ber-MSG, dan beberapa diet makanan lain. Ketika perilaku mereka tak terkontrol, berarti ada asupan makanan yang tak bisa sempurna dicerna oleh pencernaan mereka, ini mengakibatkan emosi meluap-luap," terang lulusan Fakultas Syariah dan Kedokteran Islam, ini. (tribunjateng/yayan isro roziki)

Penulis: yayan isro roziki
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved