Warga Diimbau Tak Terpancing Isu Tsunami Usai Gempa di Selat Sunda
Kekuatan gempa capai 5 Skala Richter. Episenternya di Selat Sundah pada jarak 55 kilometer arah tenggara Telukbetung.
Penulis: Daniel Ari Purnomo | Editor: Catur waskito Edy
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN -- Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG), Daryono menginformasikan adanya gempabumi di wilayah Selat Sunda, Selasa (28/6/2016) siang, sekira pukul 10.32 WIB.
"Kekuatan gempa capai 5 Skala Richter. Episenternya di Selat Sundah pada jarak 55 kilometer arah tenggara Telukbetung. Sedangkan kedalaman hiposenter sekira 45 kilometer," paparnya saat dihubungi Tribun Jateng.
Berdasarkan data peta guncangan, Daryono menganalisa secara umum gempabumi itu dirasakan dalam skala intensitas II-III MMI di Bandar Lampung, Tanjung Karang, Cilegon, Serang dan Kotaagung.
"Wilayah lain yang agak jauh dari episenter umumnya hanya mengalami guncangan dalam skala intensitas I - II MMI (I SIG BMKG), kecuali terdapat anomali seperti halnya di daerah Liwa yang mengalami guncangan dengan intensitas II-III MMI (II SIG BMKG)," bebernya.
Lebih rinci, Daryono mendiskripsikan guncangan itu dirasakan oleh orang banyak tetapi tidak menimbulkan kerusakan. Benda-benda ringan yang digantung bergoyang dan jendela kaca bergetar.
"Gempabumi ini tergolong dangkal. Disebabkan oleh aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia dengan hiposenter terletak di bawah Selat Sunda," jelas Daryono.
Meski pusat gempa ada di laut, imbuh Daryono, kekuatan gempa itu relatif kecil. Sehingga tak berpotensi timbulkan tsunami.
Hingga berita ini diracik, Daryono mengabarkan belum terjadi aktivitas gempabumi susulan (aftershocks). Ia pula mengimbau masyarakat setempat tak perlu panik. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/gempa-tsunami_20160302_225225.jpg)