Hikmah Ramadhan

Berkah (bagi) Si Miskin

Katanya, yang paling banyak dikais pada bulan Ramadan adalah kardus bekas bungkus nasi dan gelas plastik bekas air mineral.

Berkah (bagi) Si Miskin
UNICEF
Anak-anak di negara miskin dua kali lebih rentan meninggal di usia sebelum lima tahun dibandingkan dengan anak-anak di negara kaya. 

PEMULUNG yang biasa lewat depan rumah tampak lebih bersemangat pada bulan Ramadan. Karung yang dipanggulnya setiap hari selalu terisi penuh barang-barang bekas dari tempat sampah.

Katanya, yang paling banyak dikais pada bulan Ramadan adalah kardus bekas bungkus nasi dan gelas plastik bekas air mineral. Bagi pemulung, Ramadan memang memberi nilai dan penghasilan lebih, bersamaan dengan meningkatnya konsumsi masyarakat.

Barang kali, bagi pemulung itulah yang dipahami sebagai 'berkah Ramadan' jika kita tega mengatakan demikian. Setitik berkah yang sekejab melupakan keterjepitan hidup yang sudah bertahun-tahun dirasakan dan akan terus berlanjut selepas Ramadan.

Bila ditelisik lebih jauh, apa yang orang miskin peroleh sebagai berkah rupanya itu hanya bagian dari sisa-sisa kegembiraan dari orang yang berkecukupan. Kegembiraan menyongsong datangnya berbuka bersama menjadi ungkapan sosial yang semarak. Kaum miskin mendapat limpahan kesemarakan itu keesokan harinya.

Tampaknya begitulah ilustrasi yang menggambarkan kehidupan nyata. Bahwa kesejahteraan kaum lemah dan terlemahkan itu masih dalam bayang-bayang orang kaya. Orang-orang miskin dan mustadh'afin tetap berada di pinggiran kelezatan hidup orang yang berkecukupan.

Pada bulan Ramadan, kaum muslim disunnahkan memperbanyak sedekah dan beramal kebajikan kepada sesama. Ramadan dengan segenap kesemarakan ritual itu seharusnya mampu menjadi mekanisme yang bersifat reflektif untuk meneguhkan nilai-nilai kemanusiaan.

Karena pada dasarnya semua ibadah itu berdimensi kemanusiaan dan menggugah kesadaran kolektif. Dalam agama Islam setiap ibadah itu selalu memiliki korelasi positif dengan amal saleh yang berdimensi sosial.

Oleh karena itu, di penghujung bulan Ramadan, Rasulullah menganjurkan kaum muslim untuk berbagi melalui zakat fitrah. "Zakat fitrah itu membersihkan orang yang berpuasa dari berkata kotor dan berbuat sia-sia, dan untuk memberi makan kepada orang-orang miskin."

Bagi pelaku tujuan dianjurkannya zakat adalah membersihkan daki-daki spiritual sebagai akibat terlepasnya pengendalian diri dari berkata-kata kotor dan perilaku yang sia-sia (lagha). Betapapun seseorang sudah berusaha sedemikian rupa mengendalikan diri dari perbuatan dosa, namun sebagai manusia tetap saja ada celah melakukan perbuatan sia-sia yang dapat merusak nilai puasa.

Artikulasi zakat fitrah adalah memberi makan kepada orang-orang miskin. Tujuannya, bagi orang yang menerima zakat itu agar turut merasakan kebahagiaan dalam menyambut datangnya hari kemenangan pasca-Ramadan.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved