Ledakan Dinihari Itu Getarkan Kampung Banyuurip Pekalongan, 12 Terluka
Sedikitnya 12 orang menjadi korban ledakan petasan yang terjadi pada pukul 00.10, di Kelurahan Banyurip, Kecamatan Pekalongan
Penulis: raka f pujangga | Editor: Catur waskito Edy
PEKALONGAN, TRIBUNJATENG.COM - Sedikitnya 12 orang menjadi korban ledakan petasan yang terjadi pada pukul 00.10, di Kelurahan Banyurip, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan, Rabu (13/7).
Para korban tersebut terkena ledakan saat sedang meraciknya di bangunan bekas kandang sapi. Kemudian, korban dilarikan ke tiga rumah sakit terdekat sekitar pukul 00.45, yakni RSUD Bendan, RSUD Kraton, dan RS Djunaid.
Keluarga korban, Irul (33) mengatakan, semua korban ini masih satu keluarga. "Memang sudah tradisi setiap syawalan, warga membuat petasan. Saya saja yang dari jauh berasa ledakannya," kata dia.
Dia menjelaskan, sebenarnya petasan itu sudah dilarang untuk 'mantek' lagi karena kondisi bubuk petasan yang padat.
"Sudah diingatkan jangan dipantek lagi. Tapi masih dipantek, terus meledak. Yang paling parah, itu sampai kakinya patah," jelas dia.
Petasan yang meledak itu, kata dia, berjumlah tiga buah yang masing-masing beratnya satu kilogram.
"Ukuran petasannya kurang lebih sepaha, beratnya satu kilogram. Yang meledak ada tiga buah," ujar dia.
Keluarga korban lainnya, Hamim (21) menceritakan saat kejadian sedang berada di dalam kamar. Dia terbangun setelah mendengar suara ledakan yang keras dari luar rumahnya.
"Saya kaget, terbangun malam itu. Soalnya suara ledakannya keras, apalagi jarak sama rumah saya dengan lokasi ledakan sekitar 100 meter," jelas dia.
Kemudian Hamim, mencoba menghubungi keluarganya yang diketahui sedang membuat petasan di bangunan bekas kandang sapi tersebut. Ketika dihubungi, keluarganya yang menjawab telepon itu meminta pertolongan.
"Lalu, saya langsung ke lokasi. Semuanya dibawa ke rumah sakit," ucap kakak Khirom, satu korban.
Kendati demikian, sebanyak enam dari 12 korban ledakan petasan di Kelurahan Banyurip, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan, sudah dipulangkan, Rabu (12/7) kemarin.
Sedangkan, lima korban yang masih dirawat sampai saat ini berada di RSUD Kraton di Ruang Wijayakusuma
Adapun identitas korban warga Kelurahan Banyurip yang masih dirawat, yakni Zamroni (21), Subhan (22), Tajab (26), Salman Alfarisi (16), dan Samsul Arifin (16).
Sedangkan identitas satu korban yang paling parah berada di ruang ICU, yakni Ihwanul Khirom (18), warga Banyurip Ageng, Kota Pekalongan.
Menurut dokter jaga IGD RSUD Kraton, Ihwanudin Hanif menjelaskan, enam korban dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 01.05 dini hari diantar keluarganya.
Kondisi lima korban sudah masuk ke ruang perawatan, sedangkan satu korban yang kondisinya paling parah masih di ruang ICU.
"Kondisinya, korban Khirom itu mengalami luka bakar 38-45 persen, dan berada pada grade dua dan tiga," jelasnya.
Rencananya, kata dia, korban akan segera mendapatkan penindakan dari dokter bedah karena kaki sebelah kanannya mengalami patah dan luka bakar hingga bagian dalam.
"Luka bakarnya hampir merata dari luar dan dalam. Lalu, kaki kanannya sampai patah," kata dia.
Sementara itu, petugas IGD RSUD Bendan, Chisnaini mengaku, tiga korban yang masuk ke rumah sakit pada dini hari sekitar pukul 00.45 sudah dibawa pulang keluarganya.
Tiga korban ledakan petasan yang masuk ke sana, dinilai hanya mengalami luka ringan sehingga diperbolehkan rawat jalan.
"Ke sini mendapatkan perawatan sebentar karena lukanya tidak terlalu parah. Sehingga pukul 1-an sudah bisa pulang bersama keluarganya," ujar dia.
Adapun tiga korban yang sudah pulang dari RSUD Bendan, yakni Afif Ainun (18), warga Banyurip Ageng; Chairul Anwar (17) warga Banyurip Ageng; dan Nurhadi (40) warga Samborejo, Kecamatan Tirto.
"Dari tiga orang itu, yang mengalami luka paling parah itu Nurhadi, karena luka bakarnya sampai 36 persen dan juga terkena pada bagian pelipis," jelas dia.
Kami Sudah Minta Semua Dirazia
KAPOLRESTA Pekalongan, AKBP Enrico Sugiharto Silalahi, mengatakan, pihaknya masih menunggu korban ledakan petasan untuk bisa dimintai keterangan.
"Kami belum bisa menanyakan karena kondisi beberapa korban masih belum memungkinkan," jelas Kapolresta Pekalongan.
Pihaknya menambahkan, sudah meminta kepada Kapolsek untuk melakukan razia petasan pada operasi penyakit masyarakat beberapa waktu lalu.
Bahkan pihaknya mengklaim suara ledakan petasan di wilayah Kota Pekalongan telah berkurang.
"Saya sudah memerintahkan kapolsek-kapolsek untuk merazia petasan. Dan hasilnya di wilayah kota ini sudah berkurang suara ledakannya," jelasnya.
Kendati demikian, pihaknya mengatakan, masih ada warga masyarakat yang menyalakannya.
Meski sudah menjadi tradisi syawalan, namun pihak kepolisian tetap melarang petasan.
"Selain petasan itu membahayakan, suara ledakannya juga mengganggu orang lain. Meski petasan sudah jadi tradisi, kami tetap melarang," ujar dia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/korban-ledakan-petasan-di-pekalongan_20160713_114650.jpg)