Breaking News:

Begini Proses Vaksin Palsu Lolos Masuk ke Rumah Sakit

Begini Proses Vaksin Palsu Lolos Masuk ke Rumah Sakit

Editor: iswidodo
tribunjateng/dok
FOTO DOKUMEN Walikota Semarang Hendrar Prihadi sigap mengecek persediaan atau gudang obat DKK Kota Semarang, beberapa waktu lalu. Hendi pastikan tak ada vaksin palsu di Kota Semarang. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA ‑ Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengungkapkan nama‑nama rumah sakit dan fasilitas layanan kesehatan lain yang membeli dan menggunakan vaksin palsu. Mayoritas rumah sakit itu membeli vaksin palsu atas persetujuan pimpinan tertingginya.

Nila memaparkan data rumah sakit dan fasilitas layanan kesehatan yang menggunakan vaksin palsu pada rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Gedung DPR, Jakarta Pusat, Kamis (14/7). Rapat tersebut merupakan lanjutan dari rapat sehari sebelumnya.

Selain dihadiri Menkes, rapat kemarin juga dihadiri Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Bareskrim Polri, Biofarma, dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). "Pengungkapan 14 fasyankes (fasilitas dan layanan kesehatan) ini sudah disepakati dengan Bareskrim Polri," kata Nila.

Data tersebut menyatakan, ada 14 rumah sakit yang menggunakan vaksin palsu. Sebanyak 13 rumah sakit berlokasi di Kota Bekasi maupun Kabupaten Bekasi sedangkan satu rumah sakit lainnya berada di Jakarta, yakni RS Harapan Bunda di Kramat Jati, Jakarta Timur. 

Nila juga mengungkapkan modus operandi penawaran maupun pembelian vaksin palsu. Seluruh rumah sakit di Bekasi mendapatkan penawaran vaksin dari sales bernama Juanda yang bekerja untuk CV Azka Medika. Penawaran tersebut diajukan sampai ke direktur rumah sakit. Setelah direktur setuju, maka proses pembelian diselesaikan dan vaksin dikirim hingga menjadi persediaan di rumah sakit. Hanya di RS Harapan Bunda, Jakarta Timur, yang proses pembeliannya berbeda. Vaksin palsu di RS Harapan Bunda ditawarkan oleh sales M Syahrul kepada perawat bernama Irna. Lalu, Irna meminta tanda tangan dokter dan vaksin palsu pun masuk sebagai persediaan rumah sakit.

Polisi telah menetapkan Irna sebagai tersangka kasus vaksin palsu. Dia berperan sebagai penyedia botol bekas bagi produsen vaksin palsu yakni pasangan Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina. Seperti diketahui, polisi juga telah menetapkan suami istri warga Bekasi itu sebagai tersangka pembuat vaksin palsu.

Pada rapat Rabu (13/7) siang, Nila mengungkapkan, vaksin palsu beredar di sembilan wilayah yakni Pekanbaru, Palembang, Bandar Lampung, Serang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Pangkal Pinang, dan Batam.

Nila juga menyatakan, Kemenkes belum bisa menjatuhkan sanksi kepada rumah sakit yang menggunakan vaksin palsu. Menurutnya, perlu diteliti lebih jauh apakah pengadaan vaksin palsu di rumah sakit tersebut atas izin pimpinan rumah sakit atau ulah oknum‑oknum tertentu. "Lihat dulu, apakah manajemennya atau direkturnya ikut mengesahkan pembelian (vaksin palsu) atau hanya oknum. Kami harus lihat, kalau itu perbuatan oknum apakah kami harus menutup rumah sakitnya? Itu yang akan kami nilai terlebih dulu," kata Nila, Rabu siang.

"Tapi kalau sampai direktur rumah sakitnya juga terlibat mengesahkan untuk membeli (vaksin) dari distributor tidak resmi, bahkan palsu, nah dia akan kena hukuman dan bisa juga ditutup karena dia mengizinkan pembelian tersebut," imbuhnya. (tribunjateng/cetak)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved