Breaking News:

Polri Harus Pahami Psikologis Masyarakat Daerah Rawan Konflik SARA

Polri Harus Pahami Psikologis Masyarakat Daerah Rawan Konflik SARA

Editor: iswidodo

News Analysis oleh Neta S Pane Ketua Presedium Indonesia Police Watch

TRIBUNJATENG.COM - Kerusuhan berbau SARA di Tanjungbalai, Sumatera Utara cepat meluas karena Polres Tanjung Balai kurang tanggap dengan situasi psikologis masyarakat setempat.

Belajar dari kasus di Tanjung Balai, sudah saatnya Mabes Polri dalam menunjuk kapolda dan kapolres harus memilih figur-figur yang peduli dengan kondisi psikologis massa. Sehingga baik Kapolda maupun Kapolres mampu membuat pemetaan tentang psikologis masyarakat dan memetakan daerah rawan kriminal maupun rawan konflik SARA.

Seperti Tanjung Balai sendiri, tergolong sebagai daerah rawan konflik. Hal ini terjadi akibat kurang pedulinya jajaran aparat keamanan terhadap situasi sosial. Bahkan aparat cenderung berkolusi dengan pihak tertentu dan membiarkan berkembangnya mafioso di daerah itu.

Di Tanjung Balai misalnya, pada 1998 warga keturunan Tionghoa menjadi korban amuk massa. Sebab, selama ini warga Tanjung Balai merasa diteror tokoh seorang mafioso yang juga keturunan Tionghoa.

Sang mafioso yang dekat dengan pimpinan parpol di Jakarta ini bisa membuat jajaran kepolisian dan militer di kota itu bertekuk lutut. Si mafioso bebas melakukan pungutan uang keamanan ke pertokoan, menguasai penyelundupan, mengendalikan perjudian dan pelacuran dan jajaran kepolisian membiarkannya. Sehingga sang mafioso makin bertindak semena-mena hingga membuat rakyat Tanjung Balai kesal dan mengamuk.

Kerusuhan SARA pun meletus di kota itu pada 28 Mei 1998. Saat itu, ratusan rumah, toko dan mobil di kota itu dihancurkan serta dibakar warga. Begitu juga gedung DPRD dihancurkan warga karena sebagian oknum legislatif dianggap sebagai backing mafia. Massa juga menjarah toko-toko. Kerusuhan baru berakhir setelah TNI diturunkan dari berbagai kota.

Jauh sebelumnya, 3 Maret 1946 Tanjung Balai juga pernah dilanda amuk massa. Puluhan orang tewas. Korbannya adalah keluarga Kesultanan Asahan dan warga keturunan Tionghoa. Kerusuhan di Tanjung Balai kemudian menjalar tanpa kendali ke berbagai daerah di Sumatera Utara, bahkan hingga ke Tanjungpura, Langkat.

Sejarah panjang amuk massa ini harus jadi pembelajaran Polri. Artinya, jajaran kepolisian harus memiliki kepedulian yang tinggi dan jangan membiarkan aksi mafioso berkembang, sehingga warga tidak tertekan dan nekat melakukan amuk massa berbau SARA, seperti yang terjadi di Tanjung Balai. (tribunnews)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved