Soal Berdaya Saing, Indonesia Menduduki Peringkat Ke-34 dari 144 Negara Dunia

Kami harapkan akan semakin baik di tahun-tahun berikutnya, terlebih saat ini Kemenristek Dikti RI telah meluncurkan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN

Soal Berdaya Saing, Indonesia Menduduki Peringkat Ke-34 dari 144 Negara Dunia
KOMPAS/PRIYOMBODO
Suasana Pasar Cipadu di Jalan KH Wahid Hasyim, Kota Tangerang, Banten, Rabu (25/2). Pasar tekstil ini menjual berbagai macam jenis kain dengan cara ditimbang atau kiloan, dan juga meteran. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Kemenristek Dikti RI, Ocky Karna Radjasa menginformasikan, dalam urusan berdaya saing melalui berbagai kegiatan riset, pengabdian masyarakat, dan penghasil produk unggulan, Indonesia menduduki peringkat ke 34 dari 144 negara, tahun ini.

"Kami harapkan akan semakin baik di tahun-tahun berikutnya, terlebih saat ini Kemenristek Dikti RI telah meluncurkan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN). Target kami, pada 2040 menddatang, Indonesia menduduki peringkat teratas dalam hal berdaya saing dan berdaulat yang berbasis riset," terang Ocky dalam pemaparannya di hadapan peserta Konser Karya Ilmiah Nasional (KKIN) 2016 di UKSW, Kamis (4/8/2016).

Menurutnya, RIRN tersebut disusun dan diluncurkan dengan harapan dapat semakin meningkatkan kapasitas serta kompetensi riset Indonesia di ranah global. Selain itu guna mendukung peningkatan literasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di seluruh kalangan, baik itu mahasiswa, dosen, maupun praktisi yang ingin atau selama ini aktif melakukan penelitian serta pengabdian.

"Kami, di Kemenristek Dikti RI, juga akan terus mendorong seluruh pihak untuk mulai dan semakin aktif melaksanakan berbagai penelitian. Penelitian itu pun seyogyanya pula dipublikasikan. Prinsip, kami akan tuntut mereka pula untuk mengkomersialisasikan hasil penelitiannya agar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara lebih luas lagi. Data kami, saat ini baru sekitar 5 persen dari sekitar 5.000 guru besar yang mempublikasikan karyanya," ungkapnya.

Menurutnya, sekitar 5 persen itu merupakan hasil karya yang dipublikasikan di tingkat nasional maupun internasional. Untuk semakin menggenjot angka prosentase itu, pihaknya pun sudah merencanakan menggelar evaluasi bagi mereka para guru besar di seluruh Indonesia, yang tidak menghasilkan jurnal ilmiah internasional. Mereka akan memperoleh konsekuensi, yakni pengurangan atau peniadaan tunjangan yang selama ini mereka terima. (*)

Penulis: deni setiawan
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved