Resensi Buku

Menekan Budaya Konsumtif

Satu kebiasaan buruk yang melanda bangsa kita dewasa ini adalah budaya konsumtif, budaya konsumtif masyarakat Indonesia menyamai orang Barat.

Menekan Budaya Konsumtif
net
ilustrasi 

Resensi buku oleh Ahmad Wiyono Pegiat Literasi, tinggal di Pamekasan Madura

TRIBUNJATENG.COM - Satu kebiasaan buruk yang melanda bangsa kita dewasa ini adalah budaya konsumtif, bahkan konon budaya konsumtif masyarakt indonesia sudah menyamai beberapa negara besar di luar sana.

Jika itu benar, betapa fakta ini tentu sangat mengejutkan. Di tengah masih besarnya angka kemiskinan namun great budaya konsumsi kita masih tinggi.

Mudahnya akses untuk menjalani tren konsumtif, ditambah kian menterengnya fasilitas yang diberikan oleh sejumlah perusahaan, memperlebar jalan menuju kian mnjamurnya budaya tersebut. salah satunya adalah kartu kredit. Kartu ajaib yang satu ini tentu memberi ruang yang sangat luas bagi setiap penggunanya untuk mewujudkan keinginannya melakukan apa saja yang berbau konsumtif.

Dalam konteks inilah, perlu sikap bijak dari setiap pengguna kartu kredit dalam menggunakan kartu sakti tersebut. Karena jika tidak, maka sangat mungkin seseorang akan terjebak pada situasi yang sangat merugikan, yaitu tidak sehatnya perekonomean yang dimilikinya bahkan keluarganya.
============================
Judul: Cerdas Menggunakan Kartu Kredit
Penulis: Chandra Restu Kurniawan
Penerbit: Falsbook
Cetakan: 1. Agustus 2016
Tebal: 151 Halaman
ISBN: 978-602-391-229-2
============================
Dan buku berjudul Cerdas Menggunakan kartu Kredit ini mencoba menjadi problem soulving atas fenomina “penyalahgunaan” kartu kredit oleh pemiliknya.Selain mengulas seputar seluk beluk kartu kedit, seperti jenis kartu kredit, fungsi dan kegunaannya, yang paling penting dalam uraian buku ini adalah trik dan cara bijak dalam menggunakannya. Karena, bagaimana pun, kartu kredit tak jarang membuat orang terlena untuk melakukan transaki apa saja tanpa berfikir akibat yang akan dialami. Jika terus menerus dilakukan, dampaknya adalah beban pada tagihan yang sangat tinggi.

Mungkin sebagian orang menggunakan kartu kredit sebagai sarana antisipasi atau berjaga kalau sewaktu-waktu diperlukan. Namun, sebagian orang lagi ada yang terlena dengan fasilitas dan kemudahan-kemudahan yang diberikan. Pada ujung-ujungnya, mereka terbebani dengan utang yang harus dibayar (hal. 64).

Alasan efisiensi waktu kerap menjadi bumerang dalam penggunaan kartu kredit, mobilitas yang tinggi kadang dijadikan batu lomcatan untuk alasan memanfaatkan kartu tersebut. Dalam pada itu, tak sedikit yang tidak sadar bahwa dirinya telah terseret pada arus budaya konsumtif. Maka, aspek inilah yang harus ditekan semaksimal mungkin. Yaitu, kesempatan uang dimiliknya agar tidak digunakan sesuka hati.

Solusi yang hendak disampaikan dalam buku ini sebenarnya adalah bagaimana cara menekan budaya konsumtif, dengan begitu maka seseorang sudah pasti bisa mnegendalikan penggunaan kartu kredit tersebut. tolok ukurnya ada pada kemahuan untuk mengukur kebutuhan yang dimiliki sesuai dengan kemampuan yang ada. Sehingga, tidak ada upaya untuk menghambur-hamburkan uang yang dipunya. Dan kartu kredit pun menjadi aman, hanya digunakan sewaktu-waktu dalam keadaan yang sangat emergensi.

Caranya, bagilah pos-pos pengeluaran anda menjadi beberapa kategori. Kategorinya adalah tabungan, makanan, pakaian, perumahan, kesehatan, pendidikan, kebutuhan rumah tangga/kebutuhan sehari-hari, transportasi, pajak, hiburan, dan pembayaran lain-lain. (hal. 82). (tribunjateng/cetak)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved