Hanya 70 Persen Gizi Anak PAUD di Semarang Yang Konsumsi Gizinya Tepat

Melalui keterangan tertulis yang dikirim Humas UPGRIS kepada Tribun Jateng, untuk menyelesaikan desertasinya tersebut ia mengambil sampel

Penulis: rival al manaf | Editor: galih pujo asmoro
istimewa
Anita Chandra Dewi (Tengah bertoga) berfoto bersama dengan jajaran Rektorat UPGRIS seusai melaksanakan sidang promosi gelar Doktor, di Universitas Negeri Jakarta. 

Laporan Reporter Tribun Jateng, Rival Almanaf

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Universitas PGRI baru saja menambah dosen bergelar doktor setelah Anita Chandra Dewi berhasil mempertahankan desertasinya dengan judul Pengaruh Pengetahuan Gizi, Status Sosial, Ekonomi, Gaya Hidup Orangtua Terhadap Status Gizi Anak di hadapan para dosen penguji di Universitas Negeri Jakarta, Rabu (8/24/2016).

Melalui keterangan tertulis yang dikirim Humas UPGRIS kepada Tribun Jateng, untuk menyelesaikan desertasinya tersebut ia mengambil sampel di sepuluh pos PAUD di sepuluh Kecamatan yang ada di Kota Semarang.

"Dari studi itu saya mendapati 70 persen anak di paud yang saya teliti itu memiliki gizi yang pas, dan sisanya memiliki masalah yakni kekurangan dan kelebihan," terang Anita.

Ia menjelaskan dari kesimpulan penelitiannya menggambarkan pengetahuan gizi, status sosial-ekonomi, hingga pola makan keluarga berpengaruh langsung terhadap status gizi anak usia dini. Hal itu tercermin dari 30 persen dari respondennya yang memiliki permasalahan gizi.

"Ada yang sedikit salah dalam perlakuan orangtua terutama untuk anak usia dini dengan gizi berlebih, kadang mereka melihat anak dengan gizi berlebih itu lucu, padahal tidak begitu, justru dengan gizi berlebih akan semakin besar peluangnya menuju obesitas padahal itu memacu penyakit degeneratif, satu di antara penyakit jantung," terangnya lebih lanjut.

Untuk menanggulanginya, ia menyarankan anak diajak untuk terlibat dalam menentukan makanan apa yang akan dimasak oleh ibu. Selain itu anak diajak untuk berdiskusi tentang manfaat makanan yang dimakan dan bagaimana dampaknya bagi kesehatannya di masa yang akan datang.

Dengan demikian, menurutnya anak juga akan belajar mengenali asupan gizinya.

"Selain itu dari sisi ibu harus mempunyai pengetahuan tentang gizi yang baik sehingga dalam menyiapkan makanan bagi seluruh keluarga khususnya untuk anak usia dini mampu memberikan makanan yang sehat dan bergizi tinggi. Karena ibu yang mempunyai pengetahuan gizi yang baik akan mampu melahirkan anak-anak yang cerdas dan sehat," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved