Rabu, 15 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Sama-sama Mati Keracunan, Pengungkapan Kasus Mirna Lebih Sulit Ketimbang Aktivis HAM Munir

Dia seperti diminta membandingkan antara gajah dan ayam

Editor: muslimah
ABC Australia
Jessica dan Mirna 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Ahli Toksikologi dari Universitas Udayana Bali, I Made Agus Gelgel Wirasuta, menilai kasus kematian Wayan Mirna Salihin yang diduga lantaran meminum es kopi di Kafe Olivier, Grand Indonesia lebih sulit ketimbang aktivis HAM Munir Said Thalib.

12 tahun lalu, tepatnya bulan September 2004, Indonesia juga digegerkan dengan pembunuhan menggunakan racun. Kasus tersebut menjadi catatan kelam sejarah di Indonesia.

Meskipun terlibat di penanganan proses hukum kedua kasus itu, namun Agus menilai tak dapat disamakan. Dia seperti diminta membandingkan antara gajah dan ayam.

"Jelas beda. Pertama kalau saya diminta analogi sangat sederhana saya disuruh membandingkan gajah sama ayam. Bisa tidak disamakan, iya sama-sama binatang, sama-sama keracunan tetapi yang menyebabkan beda," kata AgusGelgel yang ditemui usai menjadi saksi ahli di sidang kasus pembunuhan Mirna di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Kamis (25/8/2016).

Menurutnya, perbedaan tersebut terlihat dari reaksi yang ditimbulkan terhadap korban. Munir tewas karena zat arsenik. Sementara itu, Mirna tewas karena zat sianida.

"Reaksi yang ditimbulkan beda. Sianida reaksi lebih cepat dibandingkan dengan yang diberikan pada kasus almarhum Munir," kata dia.

Dia menjelaskan, di dua kasus pembunuhan menggunakan racun itu, dia terlibat mulai dari awal penanganan proses hukum. Seperti data yang harus penyidik dapat untuk menjawab pertanyaan kapan arsenik masuk.

Selain itu data analisa apa yang harus didapatkan sehingga dapat merekonstruksi kapan kira-kira arsenik masuk. Kemudian, dia juga dihadirkan sebagai saksi ahli di persidangan.

"Saya sebagai saksi ahli juga melakukan percobaan di Olivier Kafe di sana untuk rekonstruksi dari laporan di persidangan tadi," tambahnya.

Namun dia mengaku tidak ingin berandai-andai soal siapa yang memasukkan sianida ke es kopi vietnam yang ditenggak Mirna.

Sementara dalam kasus Munir, Agus Gelgel mengatakan menerima data hasil pemeriksaan dari sebuah laboratorium canggih di Tukwila Amerika Serikat.

Dia juga terlibat sejak awal, menjadi penasihat apa yang harus dilakukan penyidik kepolisian.

"Jadi saya bisa jelaskan, kapan kira-kira arsenik itu masuk dan data analisa apa yang harus didapatkan. Sehingga saya dapat merekonstruksi kapan kira-kira arsenik masuk itu yang saya berikan advice (masukan) kepada penyidik, sehingga penyidik mencari alat yang ada di seluruh dunia sehingga ketemu suatu lab swasta di Amerika, yang menganalisa yang sesuai permintaan saya," katanya.

Dalam setiap kasus kematian yang menggunakan racun, Agus menyebutkan pembuktian sangat sulit dilakukan.

Untuk itu sebagai ahli, dia hanya bertugas melakukan rekonstruksi dari awal hingga korban dinyatakan meninggal. (*)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved