Film Karya Putra Magelang Tembus Kancah Perfilman Internasional

Film pendek berdurasi 12 menit itu menambah daftar karya anak bangsa yang mampu bersaing di kancah perfilman Internasional.

Film Karya Putra Magelang Tembus Kancah Perfilman Internasional
Dok Bayu Prihantoro Filemon
Bayu Prihantoro Filemon sutradara film On The Origin of Fear 

TRIBUNJATENG.COM, MAGELANG - Film "On The Origin of Fear" karya Bayu Prihantoro Filemon asal Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menjadi salah satu peserta Venice International Film Festival ke-73 di Italia, 31 Agustus-10 September 2016.

Film pendek berdurasi 12 menit itu menambah daftar karya anak bangsa yang mampu bersaing di kancah perfilman Internasional. Bayu optimistis bahwa film karyanya itu dapat diterima dan mendapat apresiasi di negeri Pizza itu.

Film yang dibuat hanya dalam satu hari itu masuk dalam kategori Orizzonti dan bersaing dengan para pembuat film dari negara lain.

“Mudah-mudahan karya saya dapat diterima dan banyak mendapat apresiasi di sana,” ujar Bayu dalam keterangan pers tertulis, Selasa (31/8/2016).

Bayu menceritakan, film "On The Origin of Fear" menggambil setting scene berupa ruang dubbing film era 80-an. Filmnya ini memiliki visualisasi yang sederhana tetapi sarat makna.

Ide dasar dari film ini sendiri berasal dari pengalaman pribadi Bayu yang trauma atas reproduksi teror dan kekerasan dalam film propaganda sejarah produksi Orde Baru di tahun 1984.

Sebagai generasi yang lahir pada tahun 1980-an, Bayu menjadi saksi dari salah satu episode fiksi yang paling sempurna atas sejarah bangsa dalam wajah sinema Indonesia. Dia menjadi saksi dari bagaimana peristiwa 1965 versi sejarah resmi negara dibangun melalui reproduksi teror.

"Sinema adalah teror. Scene-scene penculikan, penyiksaan, pembunuhan, tarian dan nyanyian glorifikasi kekerasan dalam film dengan pelaku dan korban yang adalah sesama warga bangsa, semua menjadi fondasi awal dari pengetahuan sejarah saya mengenai bagaimana bangsa ini membangun peradabannya pasca 1965,” tutur Bayu.

Putra sulung pasangan Marjinungroho (57) dan Fernanda Supia (54) itu menambahkan bahwa film ini adalah sebuah upaya untuk melawan rasa trauma itu. Ia berharap generasi muda berbesar hati menerima fakta bahwa di masa lalu negara Indonesia mempunyai periode sejarah gelap yang harus diakui.

"Agar kita bisa melangkah ke depan lebih ringan penuh martabat sebagai bangsa yang besar," ucapnya.

Halaman
12
Editor: rustam aji
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved