Pazaar Seni 2016 Ingin Beri Tempat Lebih pada Industri Kreatif

Selain 23 pelukis dari 14 komunitas, 21 stan industri kreatif juga berpartisipasi dalam kegiatan tersebut

Pazaar Seni 2016 Ingin Beri Tempat Lebih pada Industri Kreatif
tribunjateng/m sofri kurniawan
KEREN, Brigadir Budi Santoso Bikin Patung Singa Berbahan Onderdil Motor. Karya ini dipajang di acara Pazaar Seni 2016 di TBRS Semarang, yang berakhir 31 Agustus 2016 

SEMARANG, TRIBUNJATENG.COM - Pazaar Seni 2016 yang berlangsung di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, sejak Sabtu (27/8) lalu, tidak melulu memajang karya seni.

Selain 23 pelukis dari 14 komunitas, 21 stan industri kreatif juga berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Pazaar Seni akan berlangsung hingga Kamis (31/8) hari ini.

Ketua Panitia Pazaar Seni 2016, Adji Nugroho menyampaikan, penyelenggaraan Pazaar Seni yang kini memasuki tahun ketiga memang lebih menekankan pada pasar komunitas dan industri kreatif.

"Yang kami pamerkan (dalam Pazaar Seni--Red) bukan hanya senirupa. Tujuannya tidak lain, bagaimana agar TBRS menjadi ruang bersama," ujar Adji kepada Tribun Jateng, beberapa waktu lalu.

Dalam Pazaar Seni itu, para seniman memamerkan hasil karyanya, baik berupa seni lukis, seni kriya, seni cukil, maupun seni daur ulang. Sejumlah stan industri kreatif juga hadir. Salah satunya, stan Roemah Goegah dari Pati, yang menampilkan kaus-kaus bertema perlawanan, terutama terhadap pendirian pabrik semen di Pegunungan Kendeng.

Adji menyampaikan, selain stan seni rupa dan industri kreatif, panitia juga menyelenggarakan sejumlah kegiatan penunjang, antara lain panggung musik, pentas puisi, workshop, lomba monolog, dan lomba gambar.

"Kami juga menggelar pertunjukan musik dari berbagai grup band di Kota Semarang. Musik yang dihadirkan setiap hari dengan genre yang berbeda," ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Komunitas Bersama Lindungi Ekosistem (Berline), Prisetiawan mengungkapkan, komunitasnya mengusung isu lingkungan tentang ruang terbuka hijau di TBRS pada Pazaar Seni. Dia berharap, pemerintah lebih memperhatikan persoalan lingkungan, terutama yang ada di TBRS.

"Saya membawa seni instalasi daur ulang dengan bahan daur ulang dan bahan alam seperti bambu dan kardus-kardus," ujarnya. (*)

Penulis: rahdyan trijoko pamungkas
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved