Ngopi Pagi

Cegah Radikalisme Lewat Pendidikan

AKSI bom bunuh diri di Gereja Katolik Santo Yosef Medan, 28 Agustus lalu, mengingatkan Konferensi World Islamic Economic Forum (WIEF) ke 12 tahun 201

Istimewa
Pelaku percobaan bom bunuh diri di Gereja Stasi St Yosep di Jalan Dr Mansyur, Medan, Minggu (28/8/2016). 

AKSI bom bunuh diri di Gereja Katolik Santo Yosef Medan, 28 Agustus lalu, mengingatkan Konferensi World Islamic Economic Forum (WIEF) ke 12 tahun 2016 di Jakarta yang bersepakat: kemiskinan, kebodohan dan pengangguran akar radikalisme. Maka pendidikan merupakan solusi agar generasi muda tidak terjebak gerakan radikal.
Sepanjang 2016 ini, serentetan kejadian serupa juga terjadi. Sebelumnya pada 14 Januari terjadi Bom Thamrin dan 5 Juli ada Bom Solo
Menurut data Global Terrorism 2007, telah terjadi total 421 kasus terorisme, dimana lebih 90 persen tindak terorisme terjadi di akhir Orde Baru hingga memasuki era demokrasi (Friastuti, 2013)

Bagaimana cara meredam dengan deradikalisasi, menjadi bagian program Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Dalam The General Briefing on Counter-Terrorism di Jakarta, Selasa (19/4/2016), Jenderal Pol Drs Tito M Karnavian MA PhD mengatakan, terorisme sudah menjadi masalah global sehingga butuh kerja sama internasional untuk mengatasinya.

Namun aksi penyusupan dan pendoktrinan radikal secara masif di masyarakat juga makin gencar. Penutupan situs radikal tidaklah cukup, maka butuh pendidikan deradikalisasi di pendidikan. Kerjasama Internasional dibutuhkan dan digalakkan.
Hal ini penting karena rata-rata pelaku teror dilakukan oleh orang muda. Dan mereka biasanya direkrut sebagai calon bomber (pelaku bom bunuh diri) sejak usia sekolah. Penanaman ideologi yang melanggengkan segala cara bagi yang menjadi musuh harus dicegah dengan pendidikan deradikalisasi.

Juru bicara BNPT, Irfan Idris mengatakan, pihaknya secara intensif melakukan sosialisasi dan bekerja sama dengan sejumlah universitas di Indonesia. Sektor pendidikan menjadi penekanan, seperti universitas, pesantren, anak sekolah menengah dan rumah ibadah sebagai obyek pencegahan paham radikalisme.

Menurut Setara Institute (2014), terkait survei tentang hubungan antara terorisme dengan organisasi agama radikal di tanah air terlihat lebih banyak anggota masyarakat yang memberikan pernyataan negatif. Dinyatakan ada hubungan 27,8 %, tidak ada hubungan 39,7 % dan tidak tahu 32,6 %. Sebagian besar masyarakat tidak melihat adanya hubungan antara terorisme dengan organisasi agama radikal.

Efek demokrasi

Dengan dibuka lebarnya kran demokrasi, segala perbedaan pendapat dan berdirinya organisasi berkembang pesat. Dan kewaspadaan terhadap (lingkungan) pendidikan di sekolah.

Gerakan terorisme merupakan ancaman nyata bagi NKRI dan masyarakat dunia. Maka pendekatan deradikalisasi di sekolah sebagai salah satu upaya meredam radikalisme. AS Hikam dalam bukunya Deradikalisasi (2016), pendekatan kekuatan keras untuk penegakkan hukum baik dan mendapat sambutan, tetapi tetap membutuhkan pendekatan lunak.

Secara persuasif pendekatan di sekolah akan lebih baik. Satu diantaranya melakukan antisipasi dini sejak dini dengan menekan atau menolak radikalisme melalui pendidikan (deradikalisasi), baik formal maupun non formal. Misalnya, mengedepankan prinsip pendidikan berkarakter yang dipenuhi dengan keteladanan dan contoh.

Jangan sampai generasi muda kita hanyut terhadap aksi radikalisme. Ansyaad Mbai (2013), mengatakan untuk menghentikan radikalisasi dimulai dari pendidikan. Peran guru dibutuhkan untuk mengajarkan dengan baik mengenai empat pilar bangsa Indonesia, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selain itu, siswa juga perlu diperkuat untuk mampu menanamkan sikap satria, mengakui serta menghormati keberagaman (pluralitas) dalam semangat mutikulturalisme.

Program deradikalisasi ini hendaknya dilakukan secara komprehensif dalam dunia pendidikan, terarah, integral dan berkelanjutan. Deradikalisasi dengan solusi di pendidikan, sebagai langkah mendukung tujuan negara yang tercantum dalam pembukaan UUD 45 alinea 4, yakni melindung segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dari segala ancaman intern maupun ekstern.

Bila hal ini tercapai, maka berarti kita sudha turut menjaga ketertiban dunia melalui penanaman semangat kerjasama, gotong royong, dan kekeluargaan.

FX Triyas Hadi Prihantoro
Guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef
Surakarta(*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved