Uji Sistem Peringatan Dini Tsunami, BMKG dan BNPB Gelar Indian Ocean Wave Exercise 2016

Skenario dalam simulasi kali ini adalah adanya gempa berkekuatan 9,2 di zona Megathrust

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Daniel Ari Purnomo

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar Indian Ocean Wave Exercise 2016 (IOWAVE16), guna menguji sistem peringatan dini tsunami, Rabu (7/9/2016) di sejumlah wilayah. Di antaranya, Padang, Pandeglang, Pangandaran dan Pacitan. Kegiatan tersebut melibatkan sekira 3000 warga setempat.

"Skenario dalam simulasi kali ini adalah adanya gempa berkekuatan 9,2 di zona Megathrust Kepulauan Mentawai atau barat daya Sumatera yang terjadi pada pukul 10.00 WIB, 7 September 2016," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono melalui keterangan pers yang diterima Tribun Jateng.

Berdasar data pemodelan simulasi, Daryono memaparkan sejumlah wilayah Indonesia yang akan terdampak tsunami adalah pantai barat Sumatera, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

"Hasil pemodelan menunjukkan bahwa hampir seluruh pantai negara di Samudera Hindia terdampak tsunami meskipun dengan ketinggian bervariasi," ucap dia.

Selanjutnya, Daryono menyebut wilayah sepanjang pantai barat Sumatera, Sri Lanka, India bagian selatan, Maladewa, dan Madagaskar bagian tenggara, akan terdampak tsunami paling parah.

"Mengapa simulasi ini kami tempatkan di Kepulauan Mentawai Sumatera Barat? Sebab, wilayah itu berpotensi terjadi gempa besar. Kami ingin warga Indonesia selalu siaga," ujar Daryono.

Sebagai informasi, simulasi Indian Ocean Wave Tsunami Exercise 2016 (IOWAVE16) merupakan agenda dua tahunan 24 negara di kawasan Samudera Hindia.

Menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Andi Eka Sakya, gladi berkala ini telah dilakukan sejak 2009.

"Gladi pada tahun 2016 ini sekaligus menjadi salah satu bentuk sumbangsih Indonesia dalam menyambut Hari Kesiapsiagaan Tsunami Dunia (World Tsunami Awareness Day)," kata Andi Eka.

Lebih lanjut, Andi Eka memaparkan pihaknya sebagai penyedia peringatan dini tsunami (Tsunami Service Provider), akan mendiseminasikan peringatan dini tsunami ke National Tsunami Warning Center (NTWC) di 24 negara Samudera Hindia. Selanjutnya, informasi itu akan diteruskan kepada badan-badan penanggulangan bencana / Disaster Management Offices (DMO).

"Gelar ini akan menjadi masukan berharga bagi proposal perbaikan Tsunami Masterplan Indonesia yaitu penyusunan agenda Indonesia dalam perbaikan sistem penanggulanan bencana Tsunami di kawasan Samudera Hindia, baik melalui Konferensi Tingkat Menteri tentang Penanggulangan Bencana di New Delhi, Konferensi Internasional tentang Tsunami Ready dengan UNESCO, ataupun wahana regional UNESCAP," jelas Andi Eka.

Melengkapi, Deputi Bidang Geofisika BMKG Masturyono mengatakan, Indonesia berperan sebagai penyedia informasi Tsunami di Samudera Hindia bersama Australia dan India. BMKG juga menjadi tuan rumah dari Indian Ocean Tsunami Information Centre (IOTIC). Fungsinya sebagai pusat informasi Tsunami, kesiapsiagaan, pendidikan dan penguatan kapasitas di kawasan Samudera Hindia oleh IOC/UNESCO.

"Kami akan menyebarkan peringatan dini tsunami kepada para pemangku kepentingan untuk diteruskan kepada masyarakat. Hal ini bertujuan untuk memvalidasi rantai informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami mulai dari diseminasi, pemahaman produk dan moda komunikasi, serta melatih kesiapsiagaan daerah dan masyarakat, dalam mengantisipasi Tsunami dan menguji prosedur tetap melalui Tabletop Exercise dan Tsunami Drill", tambahnya. (*)

Penulis: Daniel Ari Purnomo
Editor: galih pujo asmoro
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved