Breaking News:

HAK JAWAB

Mochamad Imron: Lapangan Kalicari Itu Tanah Garapan Kami yang Dipinjam Remaja untuk Olahraga

Mochamad Imron membantah bahwa istrinya yaitu Murdyaningsih telah melakukan penyerobotan tanah asset milik Pemkot Semarang.

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Mochamad Imron (70), warga Jalan Kapas Utara Raya, Genuk Indah, Semarang, membantah bahwa istrinya yaitu Murdyaningsih telah melakukan penyerobotan tanah asset milik Pemkot Semarang. Bidang tanah yang dimaksud yaitu berupa lapangan sepak bola Kalicari di jalan Supriyadi, Kota Semarang.

“Itu tanah garapan kami. Tanah garapan itu dipinjam Pembina remaja untuk sarana olahraga atau lapangan sepak bola pada 24 Februari 1986 dan tanah negara tidak tercatat di buku C Desa. Hak kami atas tanah tersebut,” kata Imron kepada Tribun Jateng, dalam surat jawabnya, Senin (12/9/2016).

Imron menjelaskan, istrinya yaitu Murdyaningsih pada 14 Juli 1984 telah mengganti rugi tanah garapan itu dilengkapi surat keterangan Lurah Sendangguwo No. 593/62/84 kepada penggarap sebelumnya yakni Rasimin. Hal itu diketahui Lurah Sendangguwo yang saat itu dijabat Mas’ud.

Rasimin sendiri menggarap tanah tersebut setelah mengganti rugi dari penggarap sebelumnya yaitu Muhadi pada 9 Juli 1983, dengan luas 7.500 meter persegi. Letak dan kondisi tanah jelas tanah negara yang berupa tegalan. “Tanah negara bukan berarti tanah Pemkot Semarang,” tegasnya.

Kepemilikan bidang tanah berupa lapangan sepakbola itu, lanjutnya, sebatas hak penguasaan/ garapan sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24 tahun 1997, pada bagian 3 tentang pembuktian hak lama yang nantinya untuk kelengkapan permohonan hak milik (HM).

“Kami sangat menyayangkan sikap ngototnya Pemkot Semarang yang mengakui tanah itu sebagai asset. Seharusnya Pemkot mengayomi dan memfasilitasi warganya bukan sebaliknya malah mencari kesalahan,” sesalnya.

Pasalnya, sengketa kepemilikan tanah berupa lapangan sepakbola di Kalicari ini sudah selesai di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) hingga Mahkamah Agung (MA) melalui upaya peninjauan kembali (PK).

Pada Oktober 2014 telah diputuskan dalam sidang bahwa mewajibkan Walikota Semarang mencabut SK Walikota Semarang No. 143/285/2002 tertanggal 12 September 2012 tentang penetapan tanah ex bengkok dan bangunan asset Kelurahan menjadi asset Pemkot Semarang..

“Walikota Semarang bukannya mencabut SK sebagaimana perintah Pengadilan tapi malah menggugat. Pantaskah sikap aparatur Pemerintah demikian?” keluhnya.

Untuk memperoleh kembali haknya atas kepemilikan tanah ini, Imron telah melaporkan dan meminta petunjuk kepada Ketua Ombudsman RI pusat. Hanya saja hingga kini belum ada penyelesaiannya.

Sebagaimana diberitakan Tribunjateng.com sebelumnya, Pemkot Semarang menggugat warganya, Murdyaningsih, atas penyerobotan bidang tanah berupa lapangan sepak bola Kalicari di jalan Supriyadi, Kota Semarang ke Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Selain menggugat Murdyaningsih, Pemkot juga menggugat dua warga lain yaitu Muhadi (tergugat I) dan Rasimin (tergugat II) atas kepemilikan tanah itu. (tribunjateng/m zainal arifin).

Penulis: m zaenal arifin
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved