Selasa, 7 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

JUALAN JAMU, Pasutri Ini Bisa Naik Haji dan Kuliahkan Anak-anaknya

Kholidi dan Septiyati istrinya menekuni jualan jamu tradisional sejak 26 tahun silam, dan telah mengantarkan mereka berdua berangkat haji

Penulis: rival al manaf | Editor: iswidodo
tribunjateng/rival almanaf
Kholidi dan Septiyati istrinya menekuni jualan jamu tradisional sejak 26 tahun silam, dan telah mengantarkan mereka berdua berangkat haji 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Siapa sangka nasib Kholidi (55) dan keluarga berubah membaik setelah mantap memutuskan untuk berjualan jamu. Iya. Kholidi dan Septiyati istrinya menekuni jualan jamu tradisional sejak 26 tahun silam, dan telah mengantarkan mereka berdua berangkat haji

Dari hasil jualan jamu itu mereka menabung, kemudian tahun 2011 Kholidi dan Septiyati naik haji. Dan pada tahun 2014 silam, sudah mendaftarkan berangkat haji lagi. Ada empat orang yang sudah didaftarkan haji yaitu Kholidi, Septiyati, serta dua anaknya. Insyallah mereka berempat akan berangkat haji tahun 2026.

"Rencananya mau berangkat sekeluarga bersama empat anak saya. Tapi yang paling kecil belum boleh karena umurnya belum 12 tahun," papar Kholidi.

Penjual jamu yang bermukim di RT 02 RW 10, Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen, Semarang itu bahkan kini menjadi ketua Kelompok Jamu Gendong.

Ditemui dikediamannya, Minggu (18/9/2016) dini hari, Kholidi tampak sedang membuat dan meracik jamu untuk dijual. Aktivitas itu sudah rutin dilakukannya sejak 1990. "Sebelumnya saya bekerja serabutan, mulai ngojek, hingga jadi pembantu, saat itu kondisi ekonomi sulit," kata Kholidi kepada Tribun Jateng.

Awal mula ia memberanikan diri membuat jamu saat itu ada pendatang dari Solo yang melihat potensi Wonolopo dengan berbagai tanaman obat yang tumbuh subur. Orang itulah yang menjadi gurunya dalam meracik jamu hingga saat ini ia beserta istri dan menantunya menekuni bisnis rumahan tersebut.

"Awalnya ya ndak mudah, karena nyari pelanggannya susah, tapi akhir akhir ini justru semakin banyak konsumen jamu, mulai berdagang dari pukul 06.00 paling jam 10.00 sudah habis," beber Kholidi. Ia dalam sekali berjualan membawa sekitar 50 liter jamu, khusus untuk hari Minggu porsi ia tambah karena permintaan juga naik.

Pria yang juga menjadi ketua RT tersebut menambahkan dalam satu hari pendapatan kotor yang ia terima mencapai Rp 500 ribu rupiah, saat hari Minggu ia bahkan bisa menghasilkan Rp 750 ribu. Pendapatan itu ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan sisanya ia tabung.

Memang mereka rajin menabung. Anak-anaknya semua mengenyam pendidikan tinggi. Meski begitu, Kholidi dan Septiyati tetap jualan jamu keliling kampung menggunakan sepeda motor. Kholidi, Septiyati dan menantunya keliling kampung pakai sepeda motor sendiri-sendiri.

"Jam tidur kami berbeda dengan orang lain. Sejak puku 02.00 biasanya kami sudah bangun, mulai meracik, hingga subuh mulai berkeliling, siang baru tidur lagi," pungkasnya. (tribunjateng/rival almanaf)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved