Siang Malam Muarareja Tergenang Banjir Rob, Pak Lurah Ajukan Solusi Ini

Siang Malam Muarareja Tergenang Banjir Rob, Pak Lurah Ajukan Solusi Ini

Siang Malam Muarareja Tergenang Banjir Rob, Pak Lurah Ajukan Solusi Ini
TRIBUNJATENG/MAMDUKH ADI PRIYANTO
Warga melintasi banjir rob di Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, Senin 19 September 2016 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Mamdukh Adi Priyanto

TRIBUNJATENG.COM,TEGAL- Banjir rob selalu terjadi siang malam di Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal. Banjir rob paling parah terjadi pada Juni 2016 lalu, namun hingga kini banjir rob masih melanda rumah warga setempat.

Saat ini, kondisi terparah berada di RW 003. Air masih menggenangi akses jalan serta rumah warga.

"Memang kondisi terparah pada saat siklus lima tahunan yang terjadi pada Juni tahun ini. Saat ini, meskipun tidak semua rumah tergenang, masih ada ratusan rumah yang tergenang air," kata Lurah Muarareja, Zaenal Asikin, Senin (19/9/2016).

Menurutnya, meskipun sudah terdapat sabuk pantai dan pemecah ombak, namun tetap saja gelombang tinggi air laut tidak bisa dibendung dan dengan mudah masuk pemukiman warga.

Selain itu, meskipun tanaman mangrove sudah banyak ditanam di tepi pantai, tetap saja air dapat masuk ke rumah warga.

Oleh karena itu, pihaknya sudah mengajukan bantuan sabuk pantai yang menggunakan teknologi terbaru, yakni dengan teknologi Kantong Giotekstil Memanjang (KGM).

"Sabuk pantai ini dinilai lebih efektif untuk mengurangi gelombang menuju pemukiman. Selain itu juga bisa digunakan untuk mencegah abrasi," ujar Zaenal.

Pihaknya mengajukan sabuk pantai tersebut ke dua kementerian yakni Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera) melalui Dinas Pekerjaan Umum Kota Tegal.

Metode itu dilakukan dengan bahan geotekstile yang diisi pasir, kemudian ditanam di bawah permukaan laut sejajar dengan pantai. Hal itu dinilai lebih baik, dibandingkan membangun pemecah gelombang yang menjorok ke laut.

"Bahan yang ada dalam teknologi sabuk pantai ini tidak mudah rusak sekalipun disobek dengan pisau. Jadi sangat efektif dan murah," imbuhnya.

Sementara, Ketua Kelompok Sadar Wisat (Pokdarwis) Muara Indah yang mengelola obyek wisata Pantai Muarareja, Purwadi mengatakan juga telah mengajukan sabuk pantai dengan metode serupa ke kementerian.

Wilayah obyek wisata pantai setempat, kata dia, kerap dilanda banjir rob dan abrasi yang semakin parah.

"Daratan di pantai ini (Muarareja) sudah hilang sekitar 50 meter. Adanya pemecah gelombang dan sabuk pantai dari beton tidak begitu efetif," ucapnya.

Metode sabuk pantai tersebut, lanjutnya, sangat efektif untuk mengurangi abrasi. Pasalnya, saat air laut surut, pasir yang dibawa tidak ikut ke tengah laut. Namun, mengumpul di titik antara pemasangan sabuk pantai dengan bibir pantai. "Makanya, sabuk pantai kami ajukan ke kementerian bersama pihak kelurahan. Dengan harapan, banjir dan rob tidak terjadi di kawasan pantai ini," imbuhnya. (*)

Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved