Masalah Utang Piutang Berlanjut Penganiayaan hingga ke Pengadilan Nggak Ada Ujungnya

Masalah Utang Piutang Berlanjut Penganiayaan hingga ke Pengadilan Nggak Ada Ujungnya

Masalah Utang Piutang Berlanjut Penganiayaan hingga ke Pengadilan Nggak Ada Ujungnya
tribunjateng/raka f pujangga
Sidang Praperadilan di Pengadilan Negeri (PN) Pekalongan, Kamis (29/9/2016). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Raka F Pujangga

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Mandulnya penanganan kasus penganiayaan yang telah dilaporkan sejak 2 April 2015, diduga karena adanya keterlibatan oknum aparat. Sokhibin Qodir, warga Simbang Wetan, Pekalongan, melaporkan penganiayaan tersebut sudah satu tahun lebih tak ada proses.

Justru, pelaku penganiayaan yang melaporkan balik atas tuduhan penipuan telah menetapkan Sokhibin sebagai tersangka penipuan. Kuasa hukum Sokhibin, Yudi Suprihanto menyesalkan, mandulnya proses hukum atas penganiyaan yang telah dilaporkannya sejak 2015 lalu.

"Kami sudah laporkan sejak April 2015, dan klien kami sudah dipanggil sebagai saksi. Tapi sampai sekarang belum ada hasilnya," jelas dia, usai sidang Praperadilan di Pengadilan Negeri (PN) Pekalongan, Kamis (29/9/2016).

Yudi menceritakan, dalam kasus penganiayaan ringan itu juga melibatkan dua orang oknum TNI yang bermarkas di Pekalongan. "Saya belum bisa menyebutkan siapa oknumnya, tapi bila perlu kami juga akan laporkan dua orang itu ke Polisi Militer," jelas dia.

Kronologisnya, berawal ketika pelaku, Haris, warga Perum Paradise, Kota Pekalongan, meminta kliennya, Sokhibin untuk datang ke rumahnya. Sokhibin datang dijemput pria bernama Iwan yang merupakan pegawai Haris, agar datang ke rumahnya.

Sesampainya di rumah Haris, sudah ada beberapa orang yang menunggu termasuk dua orang oknum TNI berpakaian preman. Sokhibin di sana dikeroyok beberapa pelaku menerima pukulan hingga menyebabkan luka ringan.

"Kami sudah melakukan visum dan bukti visum itu masih kami simpan sampai sekarang. Tapi kasus ini tidak ada ujungnya," ujar dia.

Padahal, Sokhibin mengira kedatangannya tersebut untuk membicarakan persoalan utang secara baik-baik. Sejak 2010, utang bisnis antara pelaku dan korban yang semula sebanyak Rp 850 juta terus dibayar selama lima tahun terakhir hingga tersisa Rp 125 juta.

Namun pada 2015, Haris menyuplai barang untuk kebutuhan bisnis Sokhibin yang nilainya diduga telah 'mark up'. Sehingga Sokhibin harus membayar uang sebesar Rp 300 juta.

"Permasalahan timbul setelah Haris mengirim barang yang dimark up, jumlah yang dimark up sekitar Rp 69 juta. Jadi totalnya klien kami harus membayar sekitar Rp 300 juta, yang sempat membuat kami tidak terima," ujar dia. (*)

Penulis: raka f pujangga
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved