Rumah Bersejarah RA Kartini Dimiliki Perorangan, Begini Tanggapan Ganjar Pranowo

Rumah Bersejarah RA Kartini Dimiliki Perorangan, Begini Tanggapan Ganjar Pranowo

Rumah Bersejarah RA Kartini Dimiliki Perorangan, Begini Tanggapan Ganjar Pranowo
TRIBUNJATENG/M NUR HUDA
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dalam acara Ngopi Bareng Gubernur Jateng, di Pantai Bandengan Jepara, Kamis (6/10/2016) sore 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Nur Huda

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Para pelaku seni budaya di Kabupaten Jepara, meminta pada pemerintah untuk memerhatikan adanya peninggalan Raden Ajeng (RA) Kartini di Jepara. Mereka ingin agar peninggalan-peninggalan Kartini dikumpulkan dan dikelola oleh pemerintah.

Seorang pelaku seni dan budaya di Mayong Jepara, Abdi Munif, saat berdialog dengan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dalam acara Ngopi Bareng Gubernur Jateng, di Pantai Bandengan Jepara, Kamis (6/10/2016) sore, mengungkapkan keresahannya tersebut.

Ia mengungkapkan, rumah tempat RA Kartini dilahirkan saat ini menjadi milik pribadi atau perorangan. Ia menyebut pemiliknya adalah Haji Edi warga Kudus. Saat itu, H Edi membeli rumah tersebut Rp 800 juta, sedangkan saat ini jika ada yang berminat membelinya dihargai Rp 8 miliar.

"Kami mengusulkan, pemerintah membelinya agar bisa dikembangkan sebagai aset budaya daerah," katanya.

Selain rumah kelahiran RA Kartini, juga terdapat sejumlah benda lain yang diyakini peninggalan RA Kartini. Saat ini, lanjutnya, jika ada yang ingin memiliki benda-benda itu, harus memberi kompensasi perawatan selama 200 tahun terakhir.

"Dia memberikan gambaran harga, ada satu benda berupa ranjang saja dihargai Rp 60 juta," ujarnya.

Ranjang tersebut, kata Munif, pada 28 Oktober mendatang rencananya akan dipinjam oleh para komunitas pelaku seni budaya di Jepara untuk kegiatan kirab budaya. "Kami ingin menjadikan Jepara sebagai kota budaya," ujarnya.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo saat ditemui usai acara mengungkapkan, dirinya telah meminta pada Bupati Jepara Ahmad Marzuki untuk mengecek apakah benar sejumlah peninggalan Kartini itu milik perorangan.

"Bisa nggak, pemerintah membelinya. Kalau enggak, dia bisa diajak saja untuk mengelola dan dibuka ke publik," kata Ganjar.

Menurutnya, jika sejumlah benda peninggalan tersebut benar-benar memiliki nilai historis yang tinggi maka Negara harus mengambil alih pengelolaannya. "Kita tawar, kita minta agar nilai kesejarahannya tidak hilang. Saya belum yakin, apakah benar peninggalan sejarah dan pengelolanya siapa," ujarnya.(*)

Penulis: m nur huda
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved