Kisah Pengakuang Perjungan Santri yang Selamat dari Maut Setelah Perahu Tenggelam di Bengawan Solo

Tenggelamnya para santri tersebut akibat perahu yang mereka tumpangi terbalik. Alat penyeberangan itu ditumpangi 25 santri, 18 di antaranya selamat.

Kisah Pengakuang Perjungan Santri  yang Selamat dari Maut Setelah Perahu Tenggelam di Bengawan Solo
Tribun Jateng/Suharno
Bengawan Solo 

TUBAN, TRIBUNJATENG.COM - Sebanyak tujuh santri Ponpes Langitan, Kecamatan Widang, Tuban hilang tenggelam di Bengawan Solo, Jumat (7/10) sekitar pukul 09:00. Satu di antaranya berasal dari Brebes, Jateng.

Tenggelamnya para santri tersebut akibat perahu yang mereka tumpangi terbalik. Alat penyeberangan itu ditumpangi 25 santri, 18 di antaranya selamat.

Setiap Jumat, pengelola ponpes meliburkan kegiatan belajar-mengajar. Para santri pun memanfaatkan hari libur dengan berbelanja ke pasar membeli bahan-bahan kebutuhan pokok.

Mereka menyeberang ke Pasar Babat yang berada di Dusun Bubulan, Desa Banaran, Kecamatan Babat, Lamongan. Perahu yang ditumpangi itu berukuran kecil, dikendalikan Markat (61), warga Dusun Slawe, Desa Ngadirejo, Kecamatan Widang.

Diduga akibat kelebihan beban sepulangnya dari pasar, perahu terbalik di tengah aliran sungai. Padahal baru tiga meter mencapai tepian.

"Tadi waktu sudah njempalik (terguling), langsung dibalik sama tukang perahu. Saya selamat karena berpegangan pada perahu. Ada tiga orang yang memegang perahu. Teman-teman berteriak meminta tolong," terang M Khoirul Anam (20), korban selamat, di

Mapolsek Babat.

Menurutnya, sejumlah santri selamat berkat pertolongan warga. Ada yang sedang mencari rumput di pinggir sungai sehingga langsung memberi bantuan.

Beberapa korban berhasil ditarik ke tepi bengawan. Anam dan dua temannya selamat karena memegang erat badan perahu.
Ada pula yang bisa berenang sehingga dapat menepi. Korban yang hilang diduga tak bisa berenang. Terlebih arus sungai sedang deras pada musim hujan ini.

Lebar Bengawan Solo di Widang lebih dari 100 meter. Sungai itu memisahkan wilayah Tuban dan Lamongan.
Puluhan petugas gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan dan Tuban pun segera melakukan pencarian. Ada pula bantuan personel dari tim SAR Polres Tuban.

Tak ketinggalan petugas BPBD Gresik yang ikut menyisir Bengawan Solo. Pasalnya, ada tiga santri asal Gresik yang ikut hilang tenggelam.

"Ada petugas kami yang menjaga di pintu air Barage Babat. Petugas lain menggunakan perahu karet," ujar Kepala Pelaksana BPBD Lamongan, Suprapto.

Pencarian korban itu dibantu sejumlah pengurus dari Ponpes Langitan. Ada pula warga dari Widang dan Babat yang ikut menyisir daerah aliran sungai.

Kondisi air bengawan yang keruh membuat tim pencari kesulitan. Penyisiran yang dilakukan hingga sore belum membuahkan hasil.

"Kami bagi tim dari Tuban dan Lamongan untuk melakukan penyisiran. Petugas juga harus menjaga keselamatan karena memang arus sangat deras," terang Kapolres Tuban, AKBP Fadly. (surya/ikhsan fauzi)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved