Kredit Konstruksi bakal Jadi Primadona

Faktor lain yang mendorong tumbuhnya kredit sektor kontruksi pada tahun depan adalah program pemerintah pembangunan 1 juta rumah.

Kredit Konstruksi bakal Jadi Primadona
KOMPAS.com/YOHANES KURNIA IRAWAN
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo saat meninjau lokasi pembangunan proyek Mobile Power Plant 4x25 MW di Desa Jungkat, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat (2/6/2016) 

TRIBUNJATENG.COM- Kredit konstruksi diperkirakan menjadi primadona industri perbankan pada tahun depan.

Sebab, belanja pemerintah di sektor konstruksi dalam RAPBN 2017 mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah, yaitu sebesar Rp 346,6 triliun atau naik 16,7 persen year on year (yoy).

Indikasi lonjakan kredit konstruksi tahun depan tercermin dari pertumbuhan kredit konstruksi pada kuartal II/2016 sebesar 6,21 persen, atau lebih tinggi dari 2015 sebesar 5,35 persen.

Faktor lain yang mendorong tumbuhnya kredit sektor kontruksi pada tahun depan adalah program pemerintah pembangunan 1 juta rumah.

Bank besar BUKU III dan IV merupakan yang paling getol menyalurkan kredit di sektor konstruksi. Porsi penyaluran kredit bank kategori BUKU III per Juli 2016 mencapai Rp 75,09 triliun, diikuti bank BUKU IV sebesar Rp 66,23 triliun.

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BNI) merupakan satu bank yang optimistis bisa menyalurkan kredit konstruksi tahun depan lebih tinggi. Director of Commercial Lending BNI, Oni Febriarto Rahardjo mengatakan, kenaikan kredit sektor konstruksi tahun depan antara lain didukung program sejuta rumah.

“Kredit konstruksi utamanya dari permintaan rumah dengan harga di bawah Rp 300 juta yang masih tinggi,” ujarnya, Senin (10/10).

Oni menuturkan, beberapa pemicu kenaikan permintaan kredit konstruksi sektor perumahan adalah adanya paket kebijakan pemerintah di sektor perumahan dan kebijakan Bank Indonesia (BI) melakukan relaksasi loan to value (LTV) yang menurunkan uang muka kredit rumah.

Meski demikian, perbankan juga harus mewaspadai potensi kredit macet di sektor kontruksi yang bisa terjadi pada tahun depan.

Hal itu mengacu pada non-performing loan (NPL) di sektor kontruksi per Juli 2016 yang cukup tinggi, yaitu sebesar 4,7 persen. Tercatat penyumbang NPL sektor kontruksi yang cukup tinggi dari BUKU III, yaitu sebesar 6,01 persen. (TRIBUNJATENG/CETAK)

Editor: a prianggoro
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved