Warga Lahir hingga Melahirkan di Tebing Nyaris Longsor Ini, Ganjar Minta Segera Direlokasi

Warga Lahir hingga Melahirkan di Tebing Nyaris Longsor Ini, Ganjar Minta Segera Direlokasi. Mereka ada 421 warga Banjarnegara

Warga Lahir hingga Melahirkan di Tebing Nyaris Longsor Ini, Ganjar Minta Segera Direlokasi
tribunjateng/m nur huda
Sebanyak 421 warga Dusun Kaliwadas dan Sidakarya, Desa Mlaya, Kecamatan Punggelan, Banjarnegara, harus direlokasi. Tempat tinggal mereka di lereng bukit amat rawan tertimbun longsor. 

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Sebanyak 421 warga Dusun Kaliwadas dan Sidakarya, Desa Mlaya, Kecamatan Punggelan, Banjarnegara, harus direlokasi. Tempat tinggal mereka di lereng bukit amat rawan tertimbun longsor.

"Tanah di sini tinggal 'glondor' saja. Ini jelas kawasan yang berbahaya. Tata ruangnya tidak boleh dipakai untuk pemukiman. Tapi warga lahir di sini sampai melahirkan lagi, ya, di sini," ujar Gubernur Ganjar Pranowo yang meninjau dua kampung tersebut, Rabu (12/10).

Pada 28 September lalu, hujan deras mengakibatkan longsor di sejumlah titik menuju desa ini. Yang berbahaya, permukiman warga berada di cekungan di antara perbukitan.

Terdapat 96 rumah yang terdampak dan rawan tertimbun. Di dua dusun ini terdapat 103 kepala keluarga. Tak hanya itu, diketahui sudah ada retakan tanah selebar 40 centimeter sepanjang 200-an meter. Bahkan jalan kampung terlihat sudah longsor.

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara sudah memasang tanggul-tanggul darurat berupa karung berisi tanah. Ganjar tepekur melihatnya sebelum beranjak menengok warga yang mengungsi di masjid desa.

"Saya minta BPBD memasang sistem peringatan dini yang paling sederhana di bukit ini. Supaya semua tahu dan waspada," imbuh Ganjar.

Kepada para pengungsi, dia meminta mereka tak pulang ke rumah. Gubernur juga meminta para pemangku kepentingan bersedia memberi pemahaman ke masyarakat agar mau direlokasi.

Seorang warga, Ismu (60), mengaku siap jika pemerintah memindahkannya. Dia menganggap meninggalkan tanah kelahiran itu lebih baik daripada terus waswas menghadapi ancaman tanah longsor. "Kami sudah dua minggu mengungsi. Rumah-rumah sudah tak ada yang ditempati. Memang tak ada yang boleh pulang, takut sewaktu-waktu longsor," jelas Ismu.

Ganjar menegaskan, Pemprov Jateng akan membantu Pemkab Banjarnegara dalam upaya relokasi jika warga bersedia pindah. Kebijakan relokasi dalam Longsor Sijeruk dan Jemblung, tuturnya, bisa menjadi pengalaman.
"Jadi, tak ada alasan pemkab sulit mencari tempat relokasi yang aman. Susah, kan, kalau tak mau mencari (tempat relokasi). Manusia dikasih akal, kok, tidak bisa. Pemerintah diberi kewenangan, kok, susah," tuturnya.

Selama proses pencarian tempat, BPBD Banjarnegara wajib memberi latihan mengurangi risiko bencana. Minimal warga bisa menyelamatkan diri sendiri. Mengenai ketersediaan logistik, Ganjar menegaskan tak perlu risau. Jika Pemkab Banjarnegara kekurangan, Pemprov Jateng bisa mencukupinya. (tribunjateng/m nur huda)

Penulis: m nur huda
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved