Breaking News:

Bocah Yatim Piatu Itu Kini Enggan Bersekolah Sejak Giginya Rontok Lupa Rumus Matematika

Bocah Yatim Piatu Itu Kini Enggan Bersekolah Sejak Giginya Rontok Lupa Rumus Matematika

Penulis: Daniel Ari Purnomo | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG/DANIEL ARI PURNOMO
Haryati mengentuk pintu kamar keponakannya yang trauma diduga karena dipukul oleh gurunya karena lupa rumus matematika di SD di Ungaran. 

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN- Suara bocah berusia 11 tahun itu terdengar keras dari dalam kamar, saat sang bibi, Haryati, mengentuk pintu kamarnya. "Emoh, emoh, emoh!" teriak bocah perempuan itu sembari menangis.

Namanya SFS, saat ini duduk di kelas V sebuah SDN Langensari 04, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Sudah dua bulan belakangan, SFS mogok sekolah. Sehari-hari, anak yatim piatu itu mengurung diri di kamar.

"Kalau tidak mengurung diri, dia kadang keluar dari kamar. Nonton tivi. Nanti kalau ada orang yang tak dikenal datang ke rumah, dia langsung lari ke dalam kamar sambil menangis dan berteriak," ujar Haryati, saat ditemui Tribun Jateng di kediamannya, di Langensari, Ungaran Barat, Rabu (12/10).

Baca: MEMILUKAN, Siswi Yatim Piatu Ini Rontok Giginya Gara-gara Tidak Hafal Rumus Matematika

Haryati menuturkan, tingkah keponakannya itu berubah sepulang dari sekolah. Saat itu, SFS pulang sambil memegangi pipi kiri. Ia menangis lalu mendatangi sang nenek, Tarimah.

"Dia bilang ke ibu saya (Tarimah--Red), 'Nenek, saya dipukul Ibu T (guru kelas SFS--Red), gigiku patah.' Kata keponakan saya, pemukulan itu terjadi gara-gara dia tidak bisa menghapal perkalian Matematika," ucap Haryati.
Seusai mengadu kepada sang nenek, lanjut Haryati, SFS mulai mengurung diri di kamar. Bocah itu juga tak mau bersekolah keesokan harinya. Kejadian itu berlanjut selama dua minggu.

"Dua minggu setelahnya, ada beberapa guru (dari SD tempat SFS bersekolah--Red) mendatangi rumah sini. Mereka membujuk keponakan saya agar mau bersekolah. Akhirnya anak itu mau sekolah," katanya.
Beberapa hari kemudian, sepulang sekolah, cerita Haryati, SFS menangis lagi. Kali ini bocah perempuan itu mengadu dikucilkan oleh gurunya. "Dia bilang kalau di kelas selalu dimarahi bu guru. Semenjak itu, dia tidak berani masuk sekolah lagi, sampai dua bulan ini," bebernya.
Lebih lanjut, Haryati mengungkapkan pihak keluarga sudah mendatangi sekolah. Sayangnya, tak ada respons dari sekolah.

Menurutnya, penganiayaan murid itu tak terjadi kepada SFS saja. Ada sejumlah wali murid yang menyayangkan cara mengajar guru itu.

Baca: Oknum Guru yang Diduga Hajar Muridnya di SDN Ungaran Akan Diberhentikan

"Keponakan saya juga sering dipukul Ibu T pada bagian tangan kiri. Padahal keponakan saya itu kalau menulis bisanya pakai tangan kiri, dipaksa pakai tangan kanan oleh guru itu," kata Wulan, tetangga Haryati.
Sang nenek, Tarimah berharap cucunya itu mau kembali bersekolah. Ia mengaku sedih, saat melihat SFS selalu menjerit dan mengurung diri di kamar. "Bocah itu anak yatim piatu. Ibu, Hartini, meninggal saat melahirkannya. Kemudian, giliran ayahnya, Sutomo yang meninggal, saat cucu saya berusia tiga tahun," kata Tarimah. (tribunjateng/dna)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved