Berantas Pungli

Polda Geledah Kantor Disdukcapil, Temukan Uang Pungli KTP di Dalam Map

Tim Polda Kepulauan Riau menggeledah Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Batam, Senin (17/10) malam.

Polda Geledah Kantor Disdukcapil, Temukan Uang Pungli KTP di Dalam Map
tribunbatatam
ilustrasi - suasana halaman Kantor Disdukcapil Batam sering dipadati warga yang mengurus permohonan KTP 

TRIBUNJATENG.COM - Tim Polda Kepulauan Riau menggeledah Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Batam, Senin (17/10) malam. Ada dugaan pungutan liar (pungli) terkait pengurusan KTP dan akte.

Penggerebekan dipimpin Kepala Tim Surveillance Satgas Merah Putih Kepri, AKBP Yos Guntur. Bersama tujuh anggota, mereka membongkar lemari, brankas, dan rak di kantor Disdukcapil Batam, Jl Ir Sutami, Kecamatan Sekupang, Batam. Ada uang rupiah dengan nominal jutaan. Ada juga uang dollar Singapura serta ringgit Malaysia. "Totalnya belum dihitung," kata Yos Guntur.

Tampak di meja, jumlah uang tunai sekitar Rp 5 juta. Pejabat setingkat kepala bidang diamankan. Turut diamankan staf kantor tersebut. "Ada empat orang (yang diamankan). Tiga potensi tersangka," ungkap Yos.

Yos menambahkan, uang yang disita diduga kuat merupakan pungli pengurusan KTP, akte kelahiran, akte kematian, dan catatan pernikahan. Belum diketahui sejak kapan pungli dilakukan dan berapa nominal tiap pengurusan KTP. "Padahal pengurusan itu seharusnya gratis," tutur Yos.

Hingga petang, penggeledahan masih berlangsung. Setiap sudut ruangan dicek, termasuk di antaranya dokumen-dokumen.

Sumber di kepolsian menambahkan, uang dugaan pungli ditaruh di dalam map. "Ada serarus ribu rupiah dalam pecahan lima puluh ribu rupiah. Ada juga selembaran duit Rp 100 ribu. Dalam satu map duit bervariasi jumlahnya," kata seorang polisi yang meminta namanya tidak ditulis.

Kepala Disdukcapil Batam, Mardanis, terlihat bergegas masuk ke ruang tempat tiga stafnya menjalani pemeriksaan saat penggeledahan. Mardanis bungkam saat dkonfirmasi wartawan dan bergegas ke ruang pemeriksaan setibanya di kantor pukul 18.45 WIB. Tak lama kemudian, dia terlihat masuk ke ruang kerjanya diikuti tiga penyidik Polda Kepri.

Sementara itu, sejak 1 November hingga 16 Oktober 2016, sebanyak 101 oknum polisi ditangkap lantaran melakukan pungli. Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul mengatakan, paling banyak oknum yang dijerat dari Polda Metro Jaya. "Polda Metro paling banyak, ada 33 kasus dan 33 oknum," ujar Martinus di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Senin.

Menurut Martinus, setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan banyaknya anggota Polda Metro Jaya yang melakukan pungli.

Pertama, tingginya aktivitas di Polda Metro Jaya sehingga cakupannya lebih luas. Kemudian, personel Divisi Profesi dan Pengamanan di Polda Metro Jaya lebih besar sehingga pengawasan yang dilakukan lebih menyeluruh.

Selain itu, mereka juga didukung keterbukaan informasi dari website dan hotline. "Hal-hal ini yang memberi Propam untuk mendapatkan informasi dan melakukan penindakan terhadap penyalahgunaan pungli," kata Martinus.

Sementara itu, wilayah kedua terbanyak oknumnya ditangkap karena pungli, yaitu di Polda Jambi, yakni 10 anggota. Sisanya antara lain sebanyak sembilan oknum di Polda Sumatera Utara; empat oknum masing-masing di Polda Jawa Barat, Gorontalo, dan Jawa Timur; tujuh oknum Polda Papua Barat; serta lima oknum di Polda Jawa Tengah.

Martinus menambahkan, kebanyakan mereka melakukan pungli dalam perpanjangan SIM dan tilang. "Pembuatan SIM, dari praktek, ujian teori, ujian praktik, mengisi berbagai ujian, kesehatan, itu yang rentan. Sehingga di situ yang bisa diungkap," kata dia.

Saat ini, 101 oknum tersebut tengah diproses oleh Divisi Propam di masing-masing Polda. Divisi Propam pusat telah mengarahkan Propam masing-masing Polda untuk menindaklanjuti tangkapan terkait pungli itu.

Sementara untuk sanksi, kemungkinan oknum tersebut bisa dijerat sanksi pelanggaran profesi, pelanggaran etik, hingga pelanggaran pidana. "Kode etik sendiri ancamannya lebih berat. Bisa pemecatan atau pemberhentian tidak dengan hormat," kata Martinus. (tribunjateng/cetak)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved