Siswi Yatim Piatu Itu Langsung Tutup Pintu saat Bupati Semarang Datang

Kedatangan Mundjirin ini, kata Romlah, ingin memastikan bahwa SFS dalam kondisi sehat. Di rumah sederhana itu, Mundjirin ditemui Tarimah (75).

Siswi Yatim Piatu Itu Langsung Tutup Pintu saat Bupati Semarang Datang
Tribun Jateng/Daniel Ari Purnomo
Bupati Semarang, Mundjirin (berseragam Korpri biru) berbincang dengan Tarimah (tengah) dan Haryati (pojok kanan) di depan kamar SFS, di kawasan Jalan Raden Wijaya 2, Langensari, Ungaran Barat, Senin (17/10/2016). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kondisi SFS, siswa kelas V SDN Langensari 04, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, yang sudah lebih dari dua bulan mogok sekolah dan mengurung diri di rumah menarik perhatian Bupati Semarang, Mundjirin.

Senin (17/10), Mundjirin mengunjungi sekolah dan rumah SFS. Namun, orang nomor satu di Kabupaten Semarang itu gagal bertemu SFS.

Hingga Senin kemarin, SFS belum mau berangkat sekolah. Bocah yatim piatu itu enggan bersekolah selama dua bulan belakangan, setelah diduga pernah menjadi korban pemukulan oleh T, gurunya.

"Belum mau berangkat hari ini tapi (korban) sudah bicara dengan guru kelas 6 dan guru agamanya bahwa dia mau berangkat sekolah," ujar Kepala Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BKBPP) Kabupaten Semarang, Romlah, yang mendampingi Mundjirin ke sekolah dan rumah SFS.

Kendati tidak mendapati SFS di antara puluhan siswa kelas kelas V, Mundjirin tetap memanfaatkan kunjungannya ke SDN Langensari 04 untuk berinteraksi dengan anak-anak.

Pada kesempatan itu, Mundjirin juga mengajak para siswa untuk mendoakan guru dan siswa sekolah tersebut.

Setelah puas bercengkerama dengan para siswa, Mundjirin kemudian bergeser menuju ke kediaman SFS dan neneknya, Tarimah (75) di Langensari.

Kedatangan Mundjirin ini, kata Romlah, ingin memastikan bahwa SFS dalam kondisi sehat. Di rumah sederhana itu, Mundjirin ditemui Tarimah (75) dan bibi SFS, Haryanti (48).

SFS yang sebelumnya ada di ruang tamu, buru-buru masuk kamar dan menguncinya dari dalam begitu mengetahui ada tamu datang.

Mundjirin, menurut Romlah, cukup mengerti dengan kondisi SFS sehingga tidak memaksakan untuk bertemu.

"Tadi Bapak (Mundjirin--Red) hanya sampai di depan kamarnya, berbincang dengan keluarganya dan tidak memaksa (untuk bertemu)," ucapnya.

Dalam perbincangan itu, sebut Romlah, Mundjirin menanyakan kepada Tarimah maupun Haryanti mengenai keadaan SFS dan keluarganya, termasuk mengenaiorang tua SFS yang meninggal dunia.

Tarimah dengan mata berkaca-kaca menceritakan bahwa SFS sedari kecil sudah menderita. Ibunya, Hartini, meninggal dunia saat melahirkan SFS. Sementara ayahnya, Sutomo, meninggal dunia karena sakit saat SFS berusia tiga tahun.

"Sejak kecil SFS saya rawat bersama bibinya. Mudah-mudahan dia mau kembali lagi ke sekolah, supaya masa depannya nanti lebih cerah," kata Tarimah. (TRIBUNJATENG/CETAK)

Penulis: Daniel Ari Purnomo
Editor: a prianggoro
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved